BANDARQQ365

BANDARQQ365
Bandar Poker Terpercaya

Latest

Friday, April 20, 2018

Cerita Sex Hot Doyan Sex

No comments:
Cerita Sex Hot Doyan Sex

Cerita Sex Hot Doyan Sex

Perkenalkan namaku Jihan,kelahiran bandung, umurku saat ini 24 tahun, aku kuliah disalah
satu perguruan tinggi dijakarta. Dijakarta aku mengontrak sebuah rumah yang lumayan mewah
untuk aku tempati bersama dengan teman-temanku. Dirumah yang lumayan mewah itu aku
temapati dengan 4 orang temanku yang sama juga wanita. Mereka semua cantik-cantik dan
seksi-sekdi karena mereka asli kelahiran bandung semua. Kalau dikampus kami selalu
berpakaian super seksi, jadi jika kami masuk kampus kami selalu menjadi pusat perhatian
coowk-cowok hidung belang. Namun kami cuek saja karena tujuan kami memang membuat mereka
nafsu kepada kita.

Perlu pembaca ketahui kalau kami berlima adalah teman dari SMA dan sekarang kuliah disatu
fakultas yang sama dan satu jurusan yang sama juga. Jadi kami berlima sudah sangat akrab
dan sudah sangat biasa sekali. Bahkan kami sudah tak segan-segn lagi melakukanhubungan Sex
diketahui teman-teman yang lain. Karena kami berlima adalah kumpulan gadis Sayang sama-
sama doyan ngesexnya, jadi kami biasa saja. tak jarang juga kami mengerjai teman cowok
kita dengan kita buat ngecrot sebanyak-banyaknya sampai habis spermanya.
Namun dari berbagai laki-laki yang kita ajak ngentot, aku hanya mengincar satu laki-laki
ang bernama Redi. Dia orangnya ganteng, badannya sixpack, suka dengan olah raga dan aku
berpikiran kalau Redi pasti ngentotnya sangat kuat. Itu Song menjadikanku ingin seklai
merasakan dientot oleh Redi. Dan akhirnya suatu siang ketika Redi selesai bermain basket,
aku langsung nyamperin dia. Waktu aku nyamperin Redi, aku menggunakan pakaian yang sangat
seksi sehingga bentuk lekuk tubuhku sangat kelihatan.dan tanpa basa-basi lagi aku langsung
mengajak Redi nanti malam untuk pergi, dan tanpa menolak Redi pun menyetujui ajakanku. Aku
tau Redi terus memandangi tubuhku, dan sebelum pergi aku berbisik pada Redi “Siapkan
tenaga kamu ya sayang”. Redi pun tersenyum dan aku pun langsung pergi.
Malam harinya Redi menjemputku, dan aku pun langsung mengajaknya kesebuah hotel yang sudah
aku pesan. Karena kurasa seluruh tubuhku tidak fresh aku pun pergi mandi. Sementara Redi
masih keluar untuk membelikan majalah dan camilan. Aku Mandi dengan air hangat dan
berendam sesaat. Setelah selesai aku mengenakan lingerie warna merah menyala Song sengaja
kubeli sebelumnya. Warnanya Song merah sangat kontras dengan kulitku yang kuning pasti
akan membuat siapa saja yang melihatku terangsang. Kemudian kupakai Kimono kamar mandi
dari hotel tempat kami menginap. Dan aku berbaring di ranjang sambil nonton TV.
Tak lama kemudian Redi kembali. Setelah meletakkan belanjaan dia pun pergi mandi. Sengaja
kumatikan lampu kamar kemudian lampu baca di meja kunyalakan remang-remang. Suasana ini
benar-benar romantis, kimono pun kubuka dan kulempar begitu saja. Kemudian kutata bantal
dan guling di ranjang sedemikian rupa sehingga aku bisa bersandar dengan enak. Kuusap-usap
tubuhku sambil memperhatikan lingerie yang baru pertama kali kupakai.

Tak lama kemudian Redi keluar dari kamar mandi sambil melilitkan handuk di pinggangnya.
Dia pun tercengang melihatku, kemudian sambil tersenyum dia berkata, “Kamu benar benar
sexy sayang..” Diapun mendekatiku sampai di bibir ranjang, aku pun berdiri dengan bertumpu
pada kedua lututku. Kubelai rambut Redi yang baru setengah kering, kuciumi wangi
rambutnya. Kemudian ciumanku pun turun, hidungnya kukecup, bibirnya kukecup dan kulumat
dengan mesra.
Dia melingkarkan tangannya di pinggangku sambil sesekali mengusap punggungku. Kurasakan
ciuman Redi makin hebat, lidah kami saling berpagutan, kurasakan bibirnya perlahan namun
pasti turun menjelajahi leherku Song membuat jantungku makin keras berdetak. Sementara
tangannya yang lain mengusap-usap buah dadaku Song kelihatan hampir tidak muat di dalam
lingerie yang kupakai karena ukurannya memang besar, 36B.
Kurasakan lidah Redi turun dari leher menyusuri dadaku kemudian tangannya menurunkan
lingerie-ku di bagian dada Song menyebabkan tersembullah dua bukit indahku. Matanya tak
pernah lepas dari dadaku sambil dia berkata, “Oh buah dadamu memang indah sayang.. aku tak
pernah sanggup menahan diriku bila melihatnya..” Aku pun hanya tersenyum sambil mataku
mengerling nakal, yang membuatnya makin tidak tahan. Dia meremas-remas dengan mesra buah
dadaku sambil dipilin-pilin putingnya.
Kemudian dia jilati bergantian sambil dikulumnya. Kulihat benar-benar tidak muat buah
dadaku dalam genggamannya. Ya inilah salah satu kebanggaan diriku, keindahan Song
kumiliki. Aku pun mengerang, “Aaacchh.. Redi.. kau pandai sekali menghisapnya.. aacchh..”
tanpa kusadari tanganku sudah membuka handuk yang dipakai Redi yang kubiarkan jatuh begitu
saja. Dan dapat kulihat jelas kejantanannya Song panjang dan besar telah berdiri dengan
tegak seolah-olah menantangku. Memang kuakui batang kejantanan Redi sangat besar,
panjangnya mungkin hampir 18 cm, dan hal inilah Song mungkin membuatku selalu ketagihan
untuk bermain Sex dengannya.
Kuusap-usap kepala kemaluannya, kurasakan ada lendir kenikmatan telah membasahi kepala
kejantanannya yang membuatku makin terangsang. Kutundukkan kepalaku lalu kujilat-jilat
kepala kemaluannya lalu seluruh batangnya kujilat sambil kuusap-usap. Kemudian kudorong
tubuh Redi sampai dia terduduk di sofa, lalu aku berjongkok di depannya, kujilati terus
batang kejantanannya kemudian kumasukkan seluruhnya ke dalam mulutku sambil lidahku
berputar-putar di dalamnya. Kontan saja Redi mengerang, “Aahcchh.. sayaangg.. nikmatt
sekalii..” Aku merasakan batang kejantanannya semakin tegang, urat-uratnya mulai menonjol
keluar tentu saja aku semakin bergairah melihatnya.
Aku mulai mengeluar-masukkan batang kejantanan Redi, makin lama gerakanku makin cepat
sambil kugenggam dan kuputar-putar. Dia mengerang lagi, “Sayaang.. kamuu benar-benar
hebat.. aacchh..” Aku tak menghiraukannya, kukocok batang kejantanannya makin lama makin
cepat kemudian kuhisap-hisap, kurasakan tubuh Redi menegang, “Aku mau keluaarr saayy..
akuu nggaak tahann..” Makin kupercepat kocokan tanganku, kemudian kuhisap kuat-kuat batang
kejantanannya dan.., “Creett.. ccrereett..” Kurasakan air mani Redi memenuhi mulutku,
langsung kutelan sambil tetap kujilat batang kejantanannya kemudian kujilati seluruh
permukaan bibirku sambil kuremas-remas buah dadaku, kulihat Redi lemas sesaat.
Saat aku sedang asyik meremas-remas buah dadaku sendiri, sambil kulirik dia dengan
pandangn sayu dan sexy. Tiba-tiba Redi mengangkat tubuhku dan membaringkannya di ranjang.
Dia mengulum buah dadaku sambil dihisapnya kemudian perlahan ciumannya turun mencium
lingerie di bagian perutku sambil tangannya merambat ke bagian kemaluanku dan mengusap-
usap klitorisku yang rasanya sudah membesar. Aku menggeliat sambil mengerang, “Aacchh..
Redi.. nikmat..”

Kemudian dia berdiri dengan berlutut di ranjang, dia lepaskan celana dalam merahku yang
sangat sexy itu. Dia usap-usap klitorisku Song memang bersih dari rambut-rambut. Kemudian
pelan namun pasti dia jilat klitorisku sambil jari tengahnya dia masukkan ke liang
kewanitaanku. Benar-benar nikmat kurasakan, kugigit bibirku sambil tanganku tak henti-
hentinya memilin putingku sambil sesekali kujilati buah dadaku sendiri. Karena buah dadaku
besar, aku tidak kesulitan untuk menjilatinya. Sementara Redi sedang sibuk di bawah sana,
membuatku menggelinjang-gelinjang kenikmatan.

Aku pun tak sabar lagi, aku berkata pada Redi, “Ayo.. Redim.. masukkan Penismu.. aku..
akuu..” rupanya Redi telah paham maksudku, sebelum aku menyelesaikan kalimatku.. tiba-
tiba.., “Slepp..” aku memekik, “Aaacchh.. yeeahh..” sambil menahan nikmat yang luar biasa
kudapat. Belum sampai selesai kurasakan nikmat, Redi sudah menggoyangkan batang
kejantanannya keluar masuk dari liang senggamaku dengan sangat cepat, rupanya dia masih
ingat seperti itulah favoritku. Aku memang suka digoyang sangat cepat dari pertama
sehingga rasanya luar biasa nikmatnya.

Goyangan Redi pun makin cepat. Kurasakan batang kejantanannya sangat keras menghujam di
dalam liang kewanitaanku. Aku pun hanya bisa memekik, “Redi.. aachh.. nikmat sekali
sayangg.. pelermu emmang nikmat..” Redi pun tak bereaksi mengurangi goyangannya, makin
lama makin cepat dia bergoyang sampai aku berkata, “Rediiiii.. aku mau keluarr sayaangg..
akuu nggak tahann..” dia pun berkata, “Kita sama-sama sayaang..” batang kejantanan Redi
makin cepat ritmenya.

Kemudian kurasakan nikmat yang luar biasa, tubuhku menegang, melengkung hingga bagian
dadaku terbusungkan, “Aaacchh.. Rediiii.. aku keluarr..” Kurasakan liang kewanitaanku
sangat hangat. Tiba-tiba Redi menghentikan goyangannya dan tubuhnya menegang juga,
“Aachh.. akuu juga sayang..” dan, “Creett.. crett..” Air mani Redi kurasakan menyemprot
dinding rahimku, terasa sangat hangat, mengalir perlahan di dalam liang kewanitaanku.
Kemudian kami berdua tergeletak sambil dia terus menciumiku dan membisikkan kata-kata
cintanya, diusap-usapnya rambutku yang membuatku ketiduran sejenak.

Ketika aku terbangun, aku langsung menuju kamar mandi untuk berbilas. Kuisi bed tub dengan
air panas sampai penuh kemudian kumasukkan aroma parfume kesukaanku dengan sedikit minyak
lalu aku berendam di dalamnya, benar-benar nikmat. Aku hampir ketiduran ketika kurasakan
ada jari-jari halus membelai dan mengusap rambutku.

Kubuka mataku, kulihat Redi sedang berjongkok di sana, masih dalam keadaan telanjang
bulat. Kulihat senyumannya yang mesra. Kemudian dia mencium keningku, terus menyusur
hidungku hingga akhirnya kami berciuman lagi. Tangannya mengusap-usap buah dadaku, membuat
birahiku bangkit kembali. Kemudian kuusap-usap batang kejantanannya yang memang sejak dia
berjongkok telah tegak berdiri.

Dia masuk ke bed tub, aku pun menggeser badanku hingga aku terduduk di tepi bed tub.
Kemudian dia naikkan pahaku sampai posisiku mengangkang, kutarik batang kejantanannya
sampai menyentuh kemaluanku lalu kuusap-usapkan di klitorisku. Aku menggelinjang
kenikmatan. Perlahan aku masukkan kepala kejantanannya di depan liang senggamaku dan Redi
mendorong pantatnya yang otomatis menyodokkan batang kejantanannya ke liang kewanitaanku.

“Aaachh.. kamu nakal Redi..” erangku. Kemudian bibir kami saling berciuman dengan
ganasnya, saling lumat dan saling memagut. Sementara itu kurasakan gerakan Redi sudah
makin cepat dan cepat, dia naikkan kaki kiriku ke bahunya sambil setengah melingkar ke
lehernya. Dia gerakkan memutar pantatnya, kuremas-remas buah dadanya sambil kami terus
berciuman. Tiba-tiba dia melepas ciumannya dan.., “Aaacchh.. sayaang..” dia memekik sambil
memeluk erat tubuhku.

Kurasakan kebali air maninya membasahi dinding rahimku. Kemudian kucium dia dengan mesra
sambil kubelai-belai. Kudorong dia sampai dia terlentang dia. Lalu aku aku menikmati
Penisnya yang masih tegang dan menjilat sisa spermanya yang masih tersisa, kusedot dan
kukocok lagi agar semakin keluar. Setelah istirahat sebentar, kami mandi bersama. Aku
menyabuni dia dan dia menyabuniku bergantian. Rupanya air hangat membuat dia terangsang
dan membuat kami tak tahan kami bergumul lagi di kamar mandi.

Paginya penghuni kos kuceritakan malam yang dahsyat bersama Redi. Ini membuat mereka
penasaran. Aku yang hanya mengenakan lingeri seksi bercerita ke yang lain, sementara Redi
masih terkapar setelah semalam kuhajar habis habisan beberapa ronde. Kami yang hanya
mengenakan pakaian dalam seadanya antusias mendengar ceritaku.

Disaat bersamaan Redi muncul hanya mengenakan celana pendek. Tubuhnya yang atletis
kelihatan sekali. Aku menahan air liur untuk menikmati seperti semalam. Ingin sekali aku
menelanjanginya lagi, sayang pagi ini bukan jatahku. Sesuai perjanjian pagi adalah milik
bersama dan Redi berhak memilih siapa diantara kita. Redi duduk diantara kami bertiga yang
hanya mengenakan pakaian dalam yang seksi.

Haaai … pagi, sapanya. hai juga sapa kami dengan penuh arti. Rupanya dia terangsang
melihat kami hanya mengenakan pakaian seksi. Aku bisa melihat dari Penisnya yang mulai
mengeras dari celana yang dipakainya. Kamu ngaceng ya … kata Rita. Boleh dong aku
merasakannya ….. video tips oral seks mengulum penis Seperti tak sabar … Windi mendekati
dan tanpa basa basi, mendekat dan memegang Penis Redi dan membuka celana Redi .

Wowwwww …. indah sekali. serempak kami berkomentar. Windi Song sudah dekat Redi dengan
sigap meremas Penis Redi sementara tangan meremas dada Redi Song bidang. Ini Penis yang
gue cari. kata Windi. Sayagnnya pagi ini aku hanya bisa menyaksikan aksi mereka. Kali ini
aku di tugaskan merekam adegan mereka.

Windi yang sedari tadi asik dengan Penis Redi langsung memainkan dan memilinya sementara
Redi terlihat mendesah merasakan kenikmatan. Dilepasnya celana Redi dan Penisnya yang
sudah ngaceng langsung mengacung berdiri dengan gagahnya. wowwwwwww …. Windi makin
antusian dan meremasnya ujung Penis Redi. Sambil memainkannya dia mulai menjilati tubuh
Redi mulai perut, dada dan lehernya.

Sampai akhirnya dia melumat habis-habisan bibir Redi, sementara tangan kirinya masih
meremas dan memilin Penis sementara tangan kanan mencengkeram leher Redi. Redi pun
kewalahan meladeni Windi yang makin liar tak terkendali. Sementara kami hanya melongo
adegan mereka. Kami memang hanya menyaksikan saja dan menikmati aksi mereka, agar bisa
menikmati pemandangan indah ini dan tidak mengganggu kenikmatan Windi.

Lagi asik-asiknya melihat adegan Windi tiba-tiba aku dikejutkan kedatangan temanku Soni
dan Ilham. Aku lupa memang sengaja mengundangnya untuk melepaskan gairahku. yang tak
kuduga mereka datang berdua.

Suasana rumah kos yang sepi sangat mendukung aksi kami merangsang kami. Kemudian aku ajak
mereka ke kamarku. Tak menunggu lama, aku mendorong Soni di ranjang segera kulumat
bibirnya. Baju yang seksi yang kukenakan sudah aku tanggalkan tinggal celana dalam dan BH
hitam yang menempel. Sementara Ilham masih melihat aksi kami.

Tak tinggal diam kuajak dia join. Di sana tubuhku aku menikmati lagi dan lagi. Aku pun
makin menikmatinya juga. Karena gairah kami yang tinggi maka kami lakukan berulang-ulang.
Sampai disaat kuhisap milik mereka dan tiada cairan yang mereka keluarkan di mulutku dan
liangku. Kurasakan tak ada semburan.

kuterdiam menahan nafas dan agak terkaget dengan sentuhan Soni. Kurasakan putingku
mengeras dan menegang membuat aliran darahku terangsang keseluruh tubuh. Rasanya nyilu dan
nikmat membuat seluruh tubuhku merinding dan lemas. Perlahan mengalir ketonjolan didekat
saluran kencingku. Kemudian kurasakan bibir vagina dan anusku berdenyut-denyut. Kusadari
aku terangsang. Untung Soni tak menyentuh selangkanganku.

“Udah Son, lepasin tangannya dong!” ucapku sambil kedua tanganku melepaskan kedua tangan
Soni dari dadaku. Walaupun sebenarnya kusuka, tapi kutolak karena aku terangsang.
Kurasakan sebuah bibir mencium kupingku. Mataku melirik ke arah wajah tersebut dan kulihat
sekilas wajah Ilham. Sesaat kuterdiam kembali. Nikmat di dalam darahku mengalir kembali.
Bibir Ilham kemudian melumat daun telingaku.

Kurasakan nikmat dan lembut mulut Ilham dan membuatku tidak dapat mengelak dan menolak.
Perlahan lidah Ilham menjulur masuk ke lubang telingaku. “Aaahh..” hanya itu yang bisa
kuucapkan. Daguku terangkat tinggi. Kurasakan putingku mengeras dan menegang menjadi
sensitif. Kurasakan nyilu dan nikmat di putingku.

Tampaknya Soni tak mau kalah. Segera tangannya meremas-remas dadaku. Perlahan kurasakan
mulut Soni melumat bibirku. Lidahnya menjilati semua yang ada di mulutku. Aku hanya bisa
terdiam tak bergerak, kurasakan pikiranku melayang jauh. Birahiku mengalir di dalam
darahku. Tubuhku semakin sensitif dan haus akan sentuhan. Terlintas di pikiranku berharap
mendapatkan yang lebih lagi. Kurasakan buaian tangan Ilham di pahaku sehingga membuat
daerah sensitif di selangkanganku semakin menjadi. Kurasakan rokku perlahan diangkat
Ilham. Tangannya mengelus-elus pahaku dari daerah paha luar, dalam dan sampai di belahan
selangkanganku.

Kedua tangannya menggerayangi buah dadaku. Kurasakan putingku menegang nyilu yang nikmat.
Birahi mengalir dalam darahku membuatku terangsang. Kemudian kami bertiga duduk. Dan tak
lama kemudian tubuhku kali ini dirangkul oleh Ilham. Tangannya mengelus dan meraba pahaku,
kemudian perlahan menyusup di pahaku. Tak lama kemudian celana dalamku yang membentuk
belahan kemaluanku terlihat jelas. Tangannya bergerak dari bagian paha luar, dalam, dan
selangkanganku. Terasa bibir vaginaku berdenyut dan sensitif. Sebenarnya tanpa mereka
sadari aku sedang menikmati kejadian ini dan aku terangsang. Aku berusaha menyembunyikan
perasaan ini.

“Vina.. Paha kamu mulus.. putih.. kulit kamu lembut ya,” sahut Ilham dengan kedua tangan
Song menikmati tubuhku. Sesaat kemudian kurasakan tangan Soni mendekap salah satu buah
dadaku yang sedang terangsang. Sesaat nafasku tertahan kemudian batinku terdiam. Kurasakan
nikmat di dadaku. Putingku sedang dialiri darah birahi. Perlahan daguku terangkat tinggi.
Akhirnya nafasku berburu.

rahasia birahi pria wanitaTampaknya Soni tahu bila aku terangsang. Tanpa basa basi lagi
aku melakukan permainan selanjutnya. Perlahan tangan Soni yang mendekap dadaku turun dan
menyusup bhku. Kurasakan tangan Soni menyentuh kulit perutku dan menyusup sampai mendekap
dadaku yang tertutup BH dan kemudian meremas-remas. Daguku terangkat tinggi. Kemudian
bibir Soni kurasakan mengecup dan mencuimi leherku. Mataku terpejam dan kugigit lembut
bibir bawahku.

“Oouuhh..” dengan pelan desahan itu keluar dari mulutku. Semakin kukeluarkan suara dari
mulut maka semakin mereka menjadi. Kurasakan tali BH-ku terlepas dan BH-ku mengendor.
Entah siapa yang melakukannya. Kurasakan tangan Soni mendekap dadaku secara langsung.
“Aahh,” kurasakan. Dadaku diremas-remas lagi dan kemudian kedua putingku dimainkan oleh
Soni. Nikmatnya!

Perlahan BH dan kaosku diangkat. Udara pun menyentuh putingku langsung dan merangsang
tubuhku. Celana dalamku dibuka Ilham. Kaos dan BH-ku dilepas Soni. Rokku tidak
ketinggalan. Pakaian yang menyelimuti tubuhku berserakan entah berada dimana.

Akhirnya tiada sehelai kainpun di tubuh ini. Semakin tubuhku polos semakin buaian udara
merangsang tubuhku. Rasanya tubuh ini ingin dinikmati. Perlahan tangan Ilham membuat
kakiku mengangkang lebar. Rasanya buaian angin merangsang paha dalam dan daerah kemaluanku
dan membuatku berharap untuk mendapatkan kenikmatan. Kurasakan bibir Ilham menyentuh dan
mengecup bibir vaginaku. Daguku terus terangkat tinggi dan dadaku reflek membusung seakan
menyodorkan diri. Kurasakan seperti ada setrum Song mengalir dari bibir vagina ke seluruh
tubuh.

“Oouuhh..” dengan panjang kuucapkan. Kurasakan tangan Soni meremas dadaku dan memainkan
putingku. Ah, dua titik sensitifku terangsang. Dengan reflek dadaku kubusungkan sesampai-
sampainya. Tampaknya Soni tidak diam melihatku begini. Segera ia menghisap salah satu
putingku lagi. Ah, sekarang ketiga titik sensitifku terangsang. Kurasakan jari-jari Ilham
perlahan masuk ke liang vaginaku. Lalu keluar lagi dan akhirnya keluar masuk dengan cepat
dan serakah. Kurasakan birahiku melayang dan terangsang membuatku pasrah dan menikmati
cara mereka yang sedang menikmati tubuhku. Kurasakan kemaluanku basah. Anusku juga terkena
air yang mengalir.

Tampaknya Ilham mengetahui hal ini. Perlahan salah satu jarinya masuk ke anusku. Semakin
lama anusku licin dan jari Ilham dapat keluar masuk mudah. Akhirnya jari-jari Ilham keluar
masuk dikedua liang tubuhku. Nikmat kurasakan dan entah mengapa semakin kusodorkan kedua
liangku ke arahnya. Bibir Ilham menikmati daerah pinggang dan perutku. Aah, seperti
listrik mengalir dalam darahku dan juga daerah daerah tubuhku Song mereka sentuh.

Tunjukkan aksi liar anda pada suami Akhirnya kuterbaring dan kulihat dia melepaskan
celananya. Kulihat miliknya terhunus dan ia tujukan ke liang vaginaku. Setelah itu dia
kutelentangkan dan kukerjai dia habis-habisan. Kurasakan sentuhan miliknya di bibir
vaginaku. Perlahan-lahan masuk. Dagu dan dadaku terangkat tinggi.

“Aaahh..” kuucapkan sambil akhirnya milik dia menancap dalam di liang vaginaku. Kemudian
ia keluar-masukkan. Kurasakan gesekan Penisnya keluar masuk. Nikmat rasanya sampai-sampai
anusku berdenyut-denyut. Mataku setengah terpejam dan kadang-kadang tubuhku goyang karena
tak tahan merasakan nikmat. Sekilas terlihat Soni melepaskan celananya.

Kulihat miliknya lalu ia tempelkan ke mulutku. Kurasakan di bibirku dan tampaknya aku
menyukainya. Perlahan miliknya dimasukkan ke dalam mulutku. Entah mengapa mulutku
terangsang. Lalu kudekap milik Soni dengan tanganku. Kuayun-ayunkan dan kuhisap dengan
mulutku. Kurasakan seluk beluknya dan kunikmati dengan lidah dan mulutku. Kujilat,
kuhisap, kutelan dan seterusnya.

Beberapa saat kemudian kurubah posisiku jadi mengungging. Dengan begini mulutku dapat
menikmati milik Soni yang terhunus. Perlahan kurasakan kenikmatan yang berbeda. Milik
Ilham perlahan ia cabut dari liang vaginaku Kadang ia keluarkan dulu dan kemudian dia
tancapkan lagi. Tampaknya ia sengaja. Karena setiap tancapan aku mendesah karena merasakan
nikmat.

jadilah dewi sex Beberapa saat kemudian kurasakan banyak cairan yang menyembur dari milik
Soni. Karena kubenar-benar terangsang maka kurasakan nikmat. Lalu kutelan dan entah
mengapa malah membuatku tambah terangsang. Setelah habis kulepaskan hisapanku. Soni
terdiam. Ilham menarik pundakku. Sehingga ia dapat memelukku dari belakang. Tangannya
meraba-raba dadaku.

Kurasakan ia berdiri dan aku tergantung di miliknya yang menancap. Kulihat Soni
menghampiriku lagi. Kurasakan miliknya ia tancapkan ke liang vaginaku. Ah, aku diapit.
Kurasakan kedua liangku mereka masuki. Dan akhirnya kami sama-sama sampai puncak dan puas.

Karena sudah malam akhirnya kami jalan keluar bertiga. Kami jalan-jalan dengan mobilku
yang kaca filmnya hampir 100%. Kami main di utara Jakarta. Kemudian kami buat mobil goyang
sampai jam 04:00 pagi. Tentu kami melakukan istirahat. Dan kami keluar dan balik jam 04:00
lebih. Tampaknya gairah seumur kami memang fit. Ilham dan Soni bergiliran menyetir.

Dan diperjalanan tiada sehelai kainpun di tubuhku. Kondisi kaca mobil yang memungkinkan
sehingga selepas dari mojok aku pun masih bercinta dengan mereka. Sampai-sampai penjaga
karcis pun tidak melihat tubuh polosku. Diperjalanan aku duduk di belakang dan mereka
bergiliran bercinta denganku.
Mungkin karena tubuhku yang lebih unggul dari cewek-cewek lain jadi mereka tidak menyia-
nyiakan kesempatan yang jarang ini. Dan mereka terus menikmati tubuhku.-


BANDARQQ365

Thursday, April 19, 2018

Cerita Sex Dewasa Diboking Pejabat

No comments:
Cerita Sex Dewasa Diboking Pejabat

Cerita Sex Dewasa Diboking Pejabat


Di Cengkareng seseorang sudah menunggu kedatanganku dan kami langsung meluncur menuju Hotel Regent
yang letaknya aku sendiri tak tahu dimana, yang jelas di Jakarta. Ini adalah pertama kali aku mendapat
bookingan untuk terbang melayani tamu di Jakarta, bagiku tamunya sih tidaklah luar biasa meskipun
tergolong VIP, sudah biasa kulakukan, tapi yang agak beda adalah aku yang terbang menemui dia.
“Tolong layani dia dengan baik, dia seorang pejabat tinggi di negeri ini” begitu pesan penjemputku
yang merupakan orang suruhan GM yang mengatur perjalanan dan booking-anku.

Sesampai di hotel kami langsung menuju ke kamar yang sudah disiapkan, ditinggalnya aku sendirian
menunggu tamuku yang katanya pejabat tinggi itu, dia menunggu beliau di lobby. Jarum jam menunjuk ke
angka 11:30, mungkin nanti baru jam 12.00 tamuku akan datang, berarti ada waktu 30 menit untuk
menyegarkan diri di bathtub.
Sebelum aku beranjak menuju kamar mandi, terdengar telepon berdering, segera kuangkat.
“Halo, Selamat Siang, ini Lily?” Tanya suara dengan nada berat.
“Siang, betul saya sendiri, ini siapa?” tanyaku balik, padahal hanya GM dan tamuku saja yang tahu
keberadaanku.
“Bapak sebentar lagi nyampe, mungkin 15 menit lagi, kamu santai aja dulu menunggu beliau”
“Siap Boss ” jawabku santai, kubatalkan acara ke kamar mandi.
Sambil menunggu kedatangan beliau, kurapikan make up yang agak berantakan selama perjalanan di
pesawat.
Ternyata tak sampai 15 menit bel kamar berbunyi, segera kusambut kedatangan beliau yang katanya
pejabat tinggi itu. Didampingi seorang ajudan dan orang yang menjemputku tadi, masuklah bapak pejabat
itu, segera kukenali bahwa dia adalah seorang Menteri yang masih aktif pada sebuah departemen yang
cukup disegani, namanya sebut saja Pak Usman.
“Bapak tidak punya waktu, temani dia dengan baik, oke” pesan yang sama kuterima lagi,
“Beres Boss” jawabku singkat, karena dia bukanlah pejabat tinggi yang pertama kali kulayani, jadi tak
ada rasa canggung atau minder berhadapan dengan beliau.
“Pak kita di lobby, kalau ada apa apa just call me” katanya pada Pak Usman lalu mereka meninggalkanku
berdua.
Aku maklum, sebagai seorang Menteri tentu acaranya sangat padat tapi masih sempat juga dia meluangkan
waktu untuk kesenangan dunia yang satu ini.
Kami mengobrol ringan, biasa sekedar menghilangkan kekakuan pada orang yang pertama kali bertemu.
Seperempat jam berlalu, Pak Usman sudah menggeser duduknya di sebelahku, kusandarkan kepalaku di
pundaknya, beliau membalas dengan rangkulan dan elusan di rambut.
“Kulepas dulu ya Pak, biar nggak terlalu ribet dan lebih santai” kataku sembari melepas blazer hitam
yang menutupi tubuhku.
Sesuai pesan dari GM yang mem-booking, aku diminta mengenakan pakaian resmi seperti orang kantoran,
biar nggak terlalu mencolok, katanya. Kuturuti permintaannya, kukenakan setelan Blus merah tanpa
lengan dipadu dengan rok hitam yang sedikit di atas lutut, Blazer hitam menutupi bagian atasku
ditambah stocking sewarna kulit menghiasi kakiku.
Pak Usman menarikku dalam pangkuannya, diciuminya pipi dan leher jenjangku, tangannya sudah
menggerayang di daerah dada, meraba dengan remasan ringan. Kami berciuman, tangan beliau sudah
menyelinap di balik blus merahku, remasannya semakin keras. Aku merosot dari pangkuannya, berlutut
diantara kakinya, sengaja kugoda dengan membuka resliting celananya dan kukeluarkan kejantanan yang
sudah tegang mengeras. Tidak ada yang special, sama dengan umumnya tapi not so bad untuk seusia
beliau, kuremas dan kupermainkan jari jemariku pada penisnya, beliau mulai mendesis, matanya melototi
tanganku yang putih terampil bermain di penis coklatnya.
“Masukin” perintah beliau pelan tapi tegas seperti memerintah anak buahnya, agak ragu aku
melakukannya, apalagi dengan penis yang coklat kehitaman, terkesan kurang bersih.
Melihat keraguanku, Pak Usman memegang kepalaku, ditekannya ke arah penis hingga wajahku menempel di
selangkangannya.
Sambil mengumpat dalam hati aku hanya tersenyum manja mendapat perlakuannya, bukan sekali ini kualami
perlakuan kasar dan sok kuasa dari tamuku, mentang mentang aku dibayar, semua kupendam dalam dalam,
anggap saja sebagai resiko pekerjaan.
“Lepas dulu bajunya Pak, ntar kusut” kucoba mengalihkan perhatian dengan mencopot baju safarinya.
Sesaat aku terbebas dari tekanannya, kulepas baju dan celananya sekaligus, akupun ikutan melepas blus
dan rok-ku, menyisakan bikini merah tua dan stocking.
Kucoba menarik perhatiannya dengan menonjolkan ke-sexy-an tubuhku, dengan gerakan erotis satu persatu
kulepas sisa sisa penutup tubuhku, tali bra merosot ke lengan, perlahan kuturunkan dan kulepas hingga
terpampanglah kedua bukit indahku, celoteh kekaguman keluar dari mulut beliau.
Aku sengaja ingin membuatnya terpesona akan kemolekanku, supaya terhindar dari paksaan permainannya,
bagiku lebih baik dia yang aktif menikmati tubuhku dari pada aku harus terjebak alur permainan yang
tidak aku sukai, apalagi dengan beliau yang usianya lebih tua dari Papaku.
Bra yang sudah terlepas kulempar ke muka beliau, dia tersenyum saja, saat kusodorkan kedua buah dadaku
di hadapannya, tangannya langsung meraih dan meremas remas gemas sambil mempermainkan putingku.
Langsung kuraih kepalanya yang agak botak dan kubenamkan di dada, beliau menuruti kemauanku, lidahnya
menjilati putingku secara bergantian lalu mengulum dengan penuh nafsu.
Tangannya yang mulai menjelajah di selangkanganku kutepis halus, belum waktunya, bisikku. Aku kembali
menjauh melanjutkan gerakan menggoda, pelan pelan kulorotkan celana dalam mini yang masih menempel,
tapi sebelum benar benar terlepas Pak Usman menerkamku, hamper terjatuh aku dibuatnya, untung dengan
sigap beliau menangkap tubuhku, dan kamipun terjatuh di ranjang sambil tertawa lepas. Kami berangkulan
bergulingan di ranjang, beliau melumat bibirku dengan ganas. Aku menggelinjang geli ketika ciumannya
menyusuri leher dan dadaku, kuluman kasar penuh nafsu bermain main di puncak bukitku, terasa agak
nyeri dengan kekasarannya.
Kubiarkan dia menjamah seluruh tubuhku dengan bibir, lidah dan tangannya, bahkan ketika dua hingga
jari tangannya mengocok vaginaku, akupun hanya mendesah pasrah menerimanya. Beberapa kali turun naik
dari kepala hingga kaki dia menjelajah seluruh tubuhku, termasuk punggung dan pantat, sepertinya tak
ada sejengkalpun tubuhku yang terlepas dari jamahannya, tak kusadari kalau stockingku sudah tidak
berada ditempatnya.
Puas menikmati tubuhku, kutuntun penisnya ke selangkangan, tanpa usapan pemanasan beliau langsung
melesakkan kejantanannya ke liang senggamaku. Aku tersentak kaget dengan kekasarannya, tapi tak
berlangsung lama saat Pak Usman mulai kocokannya dengan tempo tinggi. Kejengkelanku perlahan lahan
berubah menjadi kenikmatan beberapa menit kemudian, ternyata alunan permainannya berhasil membuaiku
mengarungi lautan nikmat bersama sama, desahankupun mulai terdengar penuh gairah.
Kuangkat kedua kakiku yang masih bersepatu ke pundaknya, beliau tersenyum sambil mempercepat
sodokannya, aku menggeliat nikmat seraya meremas remas buah dadaku sendiri. Belum sempat aku menggapai
puncak kenikmatanku, ketika Pak Usman tanpa tanda tanda langsung menyemprotkan spermanya ke vaginaku,
kurasakan cairan hangat membasahi dan memenuhi liang senggamaku, ada sedikit kecewa tapi bukanlah
hakku untuk menuntut lebih. Kuraih penisnya saat ditarik dari vaginaku, dengan mengabaikan rasa jijik
kukocok dengan tanganku, beliau menjerit geli, lalu kuusapkan ke buah dadaku.
“Kamu memang nakal dan pandai menggoda orang” komentarnya, aku hanya senyum senyum saja seraya
beranjak ke kamar mandi membersihkan diri.
Ketika aku keluar, Pak Usman sudah berpakaian rapi bersiap untuk pergi.
“Lho kok buru buru sih Pak, kan masih belum jam satu” aku merajuk bergelayut di lengannya menggandeng
duduk kembali di sofa.
Masih telanjang kutemani beliau menghabiskan waktu hingga jam satu, masih 20 menit lagi, meski aku
tidak terlalu menikmati bercinta dengannya, tapi sudah tugas pekerjaanku untuk membuatnya merasa
perkasa dan dibutuhkan. Dua batang rokok sudah beliau habiskan sambil ngobrol, mendekati pukul satu
tanganku menggerayangi selangkangannya, sudah kembali tegang, apalagi melihat aku yang selalu
telanjang disampingnya.
“Sekali lagi ya Pak” rayuku seolah aku ketagihan dan minta lagi.
“Jangan waktu kembali ke kantor” tolaknya tanpa berusaha menghentikan tanganku yang membuka resliting
dan mengeluarkan penisnya. Matanya terpejam ketika tanganku mengocoknya.
“Sebentar aja ya Pak” kataku, tanpa menunggu jawabannya aku lansung ambil posisi di pangkuannya, kami saling berhadapan.

Kubasahi penisnya dengan ludahku, begitu tubuhku turun, kembali penisnya amblas dalam vaginaku. Aku
diam sesaat mengamati expresi kenikmatan yang terpancar diwajah beliau, kupeluk kepalanya dan
kutempelkan di antara buah dadaku.
Pantatku bergerak maju mundur mengocok penisnya, beliau mendesah, semakin cepat goyanganku, semakin
deras desahannya. Beliau membalas dengan sedotan kuat pada putingku bergantian.
Goyanganku makin cepat bervariasi, maju mundur lalu berputar kemudian berbalik arah, dan tak lebih
dari lima menit beliau sudah mengerang orgasme, tubuhnya kaku mencengkeram pantatku, kurasakan
denyutan yang tak sekeras sebelumnya, hanya enam denyutan lalu menghilang. Aku masih belum beranjak
dari pangkuannya hingga napasnya normal kembali, dengan hati hati aku turun supaya tidak ada sperma
yang tercecer ke pakaiannya, tapi tetap saja beberapa tetes keluar mengenai celananya, beliah hanya
tersenyum menepuk pantatku.
“Kamu memang nakal” katanya sambil mencubit kedua pipiku.
“Udah dulu ya, ntar Bapak terlambat ke kantor ” kataku menggoda saat membersihkan penis dan kukecup
lalu memasukkan kembali ke celananya.
Kuperiksa kerapihan pakaiannya sebelum meninggalkan kamar.
“See you nanti sore selepas jam kantor” katanya sehabis mengecup bibirku dan keluar kamar.
“Dasar si tua tak tahu diri” gerutuku sepeninggal beliau.
Kuhabiskan setengah harian di kamar tanpa keluar, menunggu kedatangan Pak Usman nanti sore, makan
siang kupesan dari Room Service. Setelah mandi membersihkan diri, kurebahkan tubuhku di ranjang hingga
tertidur. Tapi tidurku tak bisa nyenyak, lebih dari 4 kali Pak Usman maupun suruhannya meneleponku,
baik melalui HP maupun ke hotel, sekedar menanyakan apakah sudah makan atau apakah ingin jalan atau
pertanyaan lainnya yang menunjukkan perhatiannya.
Namun semua itu bagiku adalah cerminan ketidak percayaan padaku, mungkin mereka mengira kalau aku akan
pergi menerima tamu lainnya selama Pak Usman tak ada. Tentu saja aku tak pernah melakukan itu, aku
harus bersikap professional dan loyal pada tamu yang sudah mem-booking.
30 menit sebelum pukul 5 sore, aku bersiap menyambutnya, kukenakan lingerie hitam yang sexy tanpa bra
dan bikini lagi, sungguh kontras dengan kulit putihku. Aku ingin memberinya kejutan saat beliau masuk
ke kamar ini. Tepat pukul 5 sore Pak Usman sudah berada kembali di kamar ini, rupanya dia tidak mau
membuang waktu dengan percuma, begitu jam kerja berakhir lansung meluncur ke hotel yang letaknya hanya
10-15 menit perjalanan. Sorot kekaguman dan sejuta pujian langsung terucap melihat penampilanku yang
begitu erotis dan menantang, kulihat beliau menelan ludah seperti kucing yang melihat ikan siap santap
di atas meja.
Pak Usman langsung memelukku, dengan sepatu hak tinggi yang kukenakan, relative aku lebih tinggi,
bibir beliau yang berada tepat di leherku segera beraksi, menciumi leher dan bahu hingga lengan.
Sambil bersandar di dinding, kubiarkan Pak Usman menyusuri seluruh lekuk tubuhku dengan bibir dan
lidahnya, tangannya bergerilya menjarah di daerah selangkangan dan jarinya langsung menyelinap di
liang kenikmatanku yang tidak mengenakan celana dalam. Kubuka kakiku lebih lebar, aku ingin menikmati
bagaimana kepala Pak Menteri yang terhormat berada di selangkanganku, moment itulah yang paling aku
sukai kalau melayani pejabat tinggi.
Pak Usman dengan rakus melahap kedua buah dadaku, disedot dengan kuatnya, aku menggelinjang geli.
Begitu bernafsunya beliau mengulum hingga tubuhku terdorong ke belakang, terduduk di meja sebelah TV.
Ciuman Pak Usman sudah berpindah ke paha, lingerie yang kukenakan tak diijinkan dilepas meski sudah
acak acakan menempel di tubuhku.
Moment yang kutunggu dari tadi kian dekat, semakin menjadi kenyataan saat beliau mulai menjilati
klitoris dan bibir vaginaku. Kubentangkan kakiku semakin lebar, semakin masuk pula kepala beliau di
selangkanganku. Lingerie yang dari tadi tersingkap di perut kututupkan di atas kepala beliau, hingga
hanya tampak badannya saja sementara kepalanya berada di selangkanganku tertutup lingerie.
Entah sudah puas atau pengap berada di selangkanganku, beliau menarik kepalanya keluar, baru kusadari
kalau aku belum melakukan sesuatu pada beliau, masih rapi tertutup baju safarinya.
Aku tersenyum memandang wajahnya yang kemerahan dilanda nafsu, hidungnya kembang kempis seakan ingin
menelanku bulat bulat. Sembari membuka resliting celana aku mengecup dahi botaknya, kukeluarkan
penisnya yang telah keras menegang dan kutuntun ke arah gerbang surga dunia.
Berbeda dengan tadi siang, kali ini beliau begitu romantis dan penuh perasaan melesakkan penisnya
menyusuri liang sempit dan basahku sambil kami tetap berciuman bibir. Penisnya keluar masuk vaginaku
pelan pelan, seakan ingin menikmati setiap detik dan setiap kenikmatan yang timbul, tangan beliaupun
pelan meraba dan mengelus buah dadaku, tak ada kekerasan dalam irama permainannya. Lima menit berlalu
dalam tempo romantis, satu persatu kulepas pakaiannya tanpa menghentikan permainan kami, lingerie
masih menempel di tubuhku meskipun praktis tak karuan lagi letaknya.

Kami berganti posisi setelah beliau akhirnya melepas lingerieku, menyisakan stocking hitam dan sepatu,
dari belakang sama sama berdiri menghadap cermin, aku dikocok masih dengan tempo lamban. Dari pantulan
cermin bisa kulihat expresi kepuasannya saat bercinta, beliau selalu menyibakkan rambutku apabila
menghalangi wajahku dari cermin.
Kami seakan melihat adegan sex di layar cermin dengan peranan diri sendiri, mungkin ini menambah
erotis beliau bisa melihat bagaimana menyetubuhi gadis muda secantik aku. Sebaliknya dengan aku yang
selalu menutup mata rapat rapat saat beliau menengadahkan wajahku ke arah cermin, malu aku melihat
diriku sendiri sedang disetubuhi laki laki seusia Papaku, bahkan mungkin lebih tua.
Tiba tiba Pak Usman menghentakku keras disusul denyutan kuat dari kejantanannya menghantam dinding
dinding vaginaku, aku kaget, menggeliat dan menjerit, tak menyangka beliau mengakhiri dengan sentakan
kuat seperti itu, membanjiri vaginaku dengan sperma hangatnya, tangannya mencengkeram buah dadaku
dengan kuatnya, terasa sedikit sakit. Beberapa detik setelah itu kami terdiam dalam posisi tetap
kecuali tangannya yang beralih membelai punggung dan rambutku, beliau masih menikmati pemandangan kami
di cermin.
“Kamu memang hot dan pintar” katanya sambil mencabut kejantanannya.
Aku berbalik, kuraih kejantanannya yang mulai lemas lalu kuusap usapkan ke tubuhku, aku tahu dari
pengalaman bahwa banyak laki laki menyukai hal ini.
“Bapak juga hebat, bisa lama seperti itu” jawabku menghibur dan memang untuk ukuran seusia beliau
bercinta 10 menit sudah merupakan hal yang hebat, biasanya malah kurang dari 5 menit, cuma besar di nafsu saja.

Kami menghabiskan sore hingga malam dengan penuh gairah, Kulayani Pak Usman 2 babak lagi, meski masing
masing tidak pernah lebih dari 10 menit, sebelum akhirnya beliau meninggalkanku kembali ke istrinya
lewat tengah malam.
“Besok pagi aku akan datang sebelum kamu kembali ke Surabaya” pesannya sebelum meninggalkanku, aku
hanya tersenyum mendengar kerakusannya.
Aku tak tahu bagaimana beliau menghindari sorotan orang atas keberadaannya di hotel, tapi aku yakin
beliau sudah biasa melakukan dan sudah punya cara sendiri untuk menghindar. Sampai aku check out siang
hari, ternyata beliau tidak pernah datang menemuiku, entah apa yang terjadi, mungkin ada acara
mendadak. Tak ada sesal sama sekali atas ketidak hadirannya, justru aku bersukur tak harus melayani
nafsu si tua itu lagi.
Selama melayani beliau beberapa babak, dari siang hingga tengah malam, aku tak pernah mendapat orgasme
sekalipun, tapi aku tak kecewa apalagi menyesalinya, toh semua itu bagian dari pekerjaanku. Orang
suruhan GM-pun tak pernah nongol atau menelpon, akupun berangkat sendiri ke Cengkareng tanpa ada orang
lagi yang memperhatikan seperti kemarin, apalagi tiket pulang pergi masih ditangan, jadi bukanlah
masalah besar bagiku. Yang penting semua pembayaran jasaku telah ditransfer sebelum keberangkatanku ke
Jakarta. Itulah manusia, setelah selesai yang dikehendaki langsung melupakan lainnya.-


BANDARQQ365

Wednesday, April 18, 2018

No comments:

Tak Hanya Kopi, Teh Juga Bikin Gigi Berwarna Kuning


bandarqq365.net - Ada pepatah 'Awali hari dengan senyuman'. Namun ada orang yang memilih mengawali hari dengan secangkir kopi maupun teh. Masing-masing memiliki seleranya sendiri. Tapi tahukah Anda bila keduanya saling berkaitan?

Selama ini muncul anggapan dan bahkan sudah terbukti bila kopi dapat membuat gigi berwarna kuning. Bagi beberapa orang mungkin hal itu sedikit mengurangi kadar kepercayaan diri ketika senyum. Kini timbul fakta baru jika ternyata teh juga bisa menyebabkan hal yang sama yaitu mengubah warna gigi.

Seorang dokter gigi, Jordan Kirk, menyatakan segala jenis teh dapat menyebabkan gigi berubah warna baik itu teh hitam maupun teh hijau.

"Enamel gigi secara alami berpori dan dapat menyerap tanin dalam teh, yang mengarah pada perubahan warna gigi," katanya seperti yang dikutip dari Independent, Kamis (19/4/2018).

Teh mengandung sejumlah senyawa yang bisa menodai gigi antara lain theaflavin, thearubigins, dan theabrownins. Ketiganya memiliki efek perubahan warna pada gigi yang terbilang kuat. Theaflavin dan thearubigins adalah konstituen dari tannin, zat yang juga digunakan dalam proses penyamakan kulit.

Teh hijau diduga mengandung jumlah tanin tertinggi. Walau begitu beberapa tanin termasuk antioksidan yang bisa membantu mengurangi risiko penyakit jantung dan kanker. Tapi lain halnya dengan asam tannic yang dapat menyebabkan iritasi lambung dan kerusakan hati.

Kadar tannin yang cukup tinggi dapat menciptakan plak di gigi. Seiring berjalannya waktu plak menyebabkan gigi berubah warna menjadi kuning.

Sementara itu, dokter gigi lainnya, Dr Payal Sharma Birch menyarankan agar setiap orang menyikat gigi setidaknya selama dua menit dua kali sehari. Cara itu bisa membantu membersihkan plak sehingga secara tidak langsung mencegah terjadinya perubahan warna gigi.

Tuesday, April 17, 2018

Cerita Sex Terbaru Ngintip orang Bersetubuh

No comments:
Cerita Sex Terbaru Ngintip orang Bersetubuh

Cerita Sex Terbaru Ngintip orang Bersetubuh


Kegiatan ronda memang rutin diadakan di kampugku selama ini masih berjalan baik, setiap malam pasti
ada ship terdiri dari 3 orang, malam itu aku dapat giliran untuk untuk jaga pada malam minggu, tepat
pukul 00.00 yang seharusnya menemaniku ronda belum kunjung datang karena kegitan ronda sukarela maka
aku juga tidak memperdulikan mau datang atau tidak.

Dan aku mengelilingi kampungku karena aku belum mengantuk aku mengelilingi rumah rumah penduduk dengan
sarung dan senter karena udaranya dingin aku menyalakan rokokku, pada sampai di rumah Pak Erkam aku
melihat kaca yang belum tertutup dengan benar dan aku mendekati itu kelupaan atau ada orang yang masuk
dengan hati-hati kudekati, tetapi ternyata kain korden tertutup rapi.

Kupikir kemarin sore pasti lupa menutup kaca nako, tetapi langsung menutup kain kordennya saja.
Mendadak aku mendengar suara aneh, seperti desahan seseorang. Kupasang telinga baik-baik, ternyata
suara itu datang dari dalam kamar. Kudekati pelan-pelan, dan darahku berdesir, ketika ternyata itu
suara orang bersetubuh. Nampaknya ini kamar tidur Pak Erkam dan istrinya.

Aku lebih mendekat lagi, suaranya dengusan nafas yang memburu dan gemerisik dan goyangan tempat tidur
lebih jelas terdengar.

“Ssshh… hhemm… uughh… ugghh, terdengar suara dengusan dan suara orang seperti menahan sesuatu. Jelas
itu suara Bu Erkam yang ditindih suaminya. Terdengar pula bunyi kecepak-kecepok, nampaknya penis Pak
Erkam sedang mengocok liang vagina Bu Erkam.

Aduuh, darahku naik ke kepala, penisku sudah berdiri keras seperti kayu. Aku betul-betul iri
membayangkan Pak Erkam menggumuli istrinya. Alangkah nikmatnya menyetubuhi Bu Erkam yang cantik dan
bahenol itu.

“Oohh, sshh buuu, aku mau keluar, sshh…. ssshh..” terdengar suara Pak Erkam tersengal-sengal.

Suara kecepak-kecepok makin cepat, dan kemudian berhenti. Nampaknya Pak Erkam sudah ejakulasi dan
pasti penisnya dibenamkan dalam-dalam ke dalam vagina Bu Erkam. Selesailah sudah persetubuhan itu, aku
pelan-pelan meninggalkan tempat itu dengan kepala berdenyut-denyut dan penis yang kemeng karena tegang
dari Erkam.

Sejak malam itu, aku jadi sering mengendap-endap mengintip kegiatan suami-istri itu di tempat
tidurnya.

Walaupun nako tidak terbuka lagi, namun suaranya masih jelas terdengar dari sela-sela kaca nako yang
tidak rapat benar. Aku jadi seperti detektip partikelir yang mengamati kegiatan mereka di sore hari.

Biasanya pukul 21.00 mereka masih melihat siaran TV, dan sesudah itu mereka mematikan lampu dan masuk
ke kamar tidurnya.

Aku mulai melihat situasi apakah aman untuk mengintip mereka. Apabila aman, aku akan mendekati kamar
mereka. Kadang-kadang mereka hanya bercakap-cakap sebentar, terdengar bunyi gemerisik (barangkali
memasang selimut), lalu sepi. Pasti mereka terus tidur.

Tetapi apabila mereka masuk kamar, bercakap-cakap, terdengar ketawa-ketawa kecil mereka, jeritan lirih
Bu Erkam yang kegelian (barangkali dia digelitik, dicubit atau diremas buah dadanya oleh Pak Erkam),
dapat dipastikan akan diteruskan dengan persetubuhan.

Dan aku pasti mendengarkan sampai selesai. Rasanya seperti kecanduan dengan suara-suara Pak Erkam dan
khususnya suara Bu Erkam yang keenakan disetubuhi suaminya.

Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Apabila aku bertemu Bu Erkam juga biasa-biasa saja,
namun tidak dapat dipungkiri, aku jadi jatuh cinta sama istri Pak Erkam itu.

Orangnya memang cantik, dan badannya padat berisi sesuai dengan seleraku. Khususnya pantat dan buah
dadanya yang besar dan bagus.

Aku menyadari bahwa hal itu tidak akan mungkin, karena Bu Erkam istri orang. Kalau aku berani menggoda
Bu Erkam pasti jadi masalah besar di kampungku.

Bisa-bisa aku dipukuli atau diusir dari kampungku. Tetapi nasib orang tidak ada yang tahu. Ternyata
aku akhirnya dapat menikmati keindahan tubuh Bu Erkam.

Pada suatu hari aku mendengar Pak Erkam opname di rumah sakit, katanya operasi usus buntu. Sebagai
tetangga dan masih bujangan aku banyak waktu untuk menengoknya di rumah sakit. Dan yang penting aku
mencoba membangun hubungan yang lebih akrab dengan Bu Erkam.

Pada suatu sore, aku menengok di rumah sakit bersamaan dengan adiknya Pak Erkam. Sore itu, mereka
sepakat Bu Erkam akan digantikan adiknya menunggu di rumah sakit, karena Bu Erkam sudah beberapa hari
tidak pulang.

Aku menawarkan diri untuk pulang bersamaku. Mereka setuju saja dan malah berterima kasih. Terus terang
kami sudah menjalin hubungan lebih akrab dengan keluarga itu.

Sehabis mahgrib aku bersama Bu Erkam pulang. Dalam mobilku kami mulai mengobrol, mengenai sakitnya Pak
Erkam. Katanya seminggu lagi sudah boleh pulang.

Aku mulai mencoba untuk berbicara lebih dekat lagi, atau katakanlah lebih kurang ajar. Inikan
kesempatan bagus sekali untuk mendekatai Bu Erkam.

“Bu, maaf yaa. ngomong-ngomong Bu Erkam sudah berkeluarga sekitar 3 tahun kok belum diberi momongan
yaa”, kataku hati-hati.

“Ya, itulah Dik Budi. Kami kan hanya lakoni. Barangkali Tuhan belum mengizinkan”, jawab Bu Erkam.

“Tapi anu tho bu… anuu.. bikinnya khan jalan terus.” godaku. “Ooh apa, ooh. kalau itu sih iiiya Dik
Budi” jawab Bu Erkam agak kikuk.

Sebenarnya kan aku tahu, mereka setiap minggunya minmal 2 kali bersetubuh dan terbayang kembali
desahan Bu Erkam yang keenakan. Darahku semakin berdesir-desir. Aku semakin nekad saja.

“Tapi, kok belum berhasil juga yaa bu?” lanjutku.

“Ya, itulah, kami berusaha terus. Tapi ngomong-ngomong kapan Dik Budi kimpoi. Sudah kerja, sudah punya
mobil, cakep lagi. Cepetan dong. Nanti keburu tua lhoo”, kata Bu Erkam.

“Eeh, benar nih Bu Erkam. Aku cakep niih. Ah kebetulan, tolong carikan aku Bu. Tolong carikan yang
kayak Ibu Erkam ini lhoo”, kataku menggodanya.

“Lho, kok hanya kayak saya. Yang lain yang lebih cakep kan banyak. Saya khan sudah tua, jelek lagi”,
katanya sambil ketawa.

Aku harus dapat memanfaatkan situasi. Harus, Bu Erkam harus aku dapatkan. “Eeh, Bu Erkam. Kita kan
nggak usah buru-buru nih.

Di rumah Bu Erkam juga kosong. Kita cari makan dulu yaa. Mauu yaa bu, mau yaa”, ajakku dengan penuh
kekhawatiran jangan-jangan dia menolak.

“Tapi nanti kemaleman lo Dik”, jawabnya.

“Aah, baru jam tujuh. Mau ya Buu”, aku sedikit memaksa.

“Yaa gimana yaa… ya deh terserah Dik Budi. Tapi nggak malam-malam lho.” Bu Erkam setuju. Batinku
bersorak.

Kami berehenti di warung bakmi yang terkenal. Sambil makan kami terus mengobrol. Jeratku semakin aku
persempit.

“Eeh, aku benar-benar tolong dicarikan istri yang kayak Bu Erkam dong Bu. benar nih. Soalnya begini
bu, tapii eeh nanti Bu Erkam marah sama saya. Nggak usaah aku katakan saja deh”, kubuat Bu Erkam
penasaran.

“Emangnya kenapa siih.” Bu Erkam memandangku penuh tanda tanya.

“Tapi janji nggak marah lho.” kataku memancing. Dia mengangguk kecil. “Anu bu… tapi janji tidak marah
lho yaa.”

“Bu Erkam terus terang aku terobsesi punya istri seperti Bu Erkam.

Aku benar-benar bingung dan seperti orang gila kalau memikirkan Bu Erkam. Aku menyadari ini nggak
betul. Bu Erkam kan istri tetanggaku yang harus aku hormati.

Aduuh, maaf, maaf sekali bu. aku sudah kurang ajar sekali”, kataku menghiba. Bu Erkam melongo,
memandangiku. sendoknya tidak terasa jatuh di piring.

Bunyinya mengagetkan dia, dia tersipu-sipu, tidak berani memandangiku lagi.

Sampai selesai kami jadi berdiam-diaman. Kami berangkat pulang. Dalam mobil aku berpikir, ini sudah
telanjur basah. Katanya laki-laki harus nekad untuk menaklukkan wanita. Nekad kupegang tangannya
dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku memegang setir.

Di luar dugaanku, Bu Erkam balas meremas tanganku. Batinku bersorak. Aku tersenyum penuh kemenangan.
Tidak ada kata-kata, batin kami, perasaan kami telah bertaut. Pikiranku melambung, melayang-layang.
Mendadak ada sepeda motor menyalib mobilku. Aku kaget.

“Awaas! hati-hati!” Bu Erkam menjerit kaget. “Aduh nyalib kok nekad amat siih”, gerutuku.

“Makanya kalau nyetir jangan macam-macam”, kata Bu Erkam.

Kami tertawa. Kami tidak membisu lagi, kami ngomong, ngomong apa saja. Kebekuan cair sudah. Sampai di
rumah aku hanya sampai pintu masuk, aku lalu pamit pulang. Di rumah aku mencoba untuk tidur.

Tidak bisa. Nonton siaran TV, tidak nyaman juga. Aku terus membayangkan Bu Erkam yang sekarang
sendirian, hanya ditemani pembantunya yang tua di kamar belakang. Ada dorongan sangat kuat untuk
mendatangi rumah Bu Erkam.

Berani nggaak, berani nggak. Mengapa nggak berani. Entah setan mana yang mendorongku, tahu-tahu aku
sudah keluar rumah. Aku mendatangi kamar Bu Erkam. Dengan berdebar-debar, aku ketok pelan-pelan kaca
nakonya, “Buu Erkam, aku Budi”, kataku lirih.

Terdengar gemerisik tempat tidur, lalu sepi. Mungkin Bu Erkam bangun dan takut. Bisa juga mengira aku
maling.

“Aku Budi”, kataku lirih. Terdengar gemerisik. Kain korden terbuka sedikit.

Nako terbuka sedikit. “Lewat belakang!” kata Bu Erkam. Aku menuju ke belakang ke pintu dapur. Pintu
terbuka, aku masuk, pintu tertutup kembali.

Aku nggak tahan lagi, Bu Erkam aku peluk erat-erat, kuciumi pipinya, hidungnya, bibirnya dengan lembut
dan mesra, penuh kerinduan. Bu Erkam membalas memelukku, wajahnya disusupkan ke dadaku.

“Aku nggak bisa tidur”, bisikku.

“Aku juga”, katanya sambil memelukku erat-erat.

Dia melepaskan pelukannya. Aku dibimbingnya masuk ke kamar tidurnya. Kami berpelukan lagi, berciuman
lagi dengan lebih bernafsu.

“Buu, aku kangen bangeeet. Aku kangen”, bisikku sambil terus menciumi dan membelai punggungnya. Nafsu
kami semakin menggelora. Aku ditariknya ke tempat tidur.

Bu Erkam membaringkan dirinya. Tanganku menyusup ke buah dadanya yang besar dan empuk, aduuh nikmat
sekali, kuelus buah dadanya dengan lembut, kuremas pelan-pelan. Bu Erkam menyingkapkan dasternya ke
atas, dia tidak memakai BH. Aduh buah dadanya kelihatan putih dan menggung.

Aku nggak tahan lagi, kuciumi, kukulum pentilnya, kubenamkan wajahku di kedua buah dadanya, sampai aku
nggak bisa bernapas. Sementara tanganku merogoh kemaluannya yang berbulu tebal. Celana dalamnya
kupelorotkan, dan Bu Erkam meneruskan ke bawah sampai terlepas dari kakinya.

Dengan sigap aku melepaskan sarung dan celana dalamku. Penisku langsung tegang tegak menantang. Bu
Erkam segera menggenggamnya dan dikocok-kocok pelan dari ujung penisku ke pangkal pahaku. Aduuh,
rasanya geli dan nikmat sekali. Aku sudah nggak sabar lagi. Aku naiki tubuh Bu Erkam, bertelekan pada
sikut dan dengkulku.

Kaki Bu Erkam dikangkangkannya lebar-lebar, penisku dibimbingnya masuk ke liang vaginanya yang sudah
basah. ceritasexterbaru.org Digesek-gesekannya di bibir kemaluannya, makin lama semakin basah, kepala penisku masuk,
semakin dalam, semakin… dan akhirnya blees, masuk semuanya ke dalam kemaluan Bu Erkam.

Aku turun-naik pelan-pelan dengan teratur. Aduuh, nikmat sekali. Penisku dijepit kemaluan Bu Erkam
yang sempit dan licin. Makin cepat kucoblos, keluar-masuk, turun-naik dengan penuh nafsu.

“Aduuh, Dik Budi, Dik Budii… enaak sekali, yang cepaat.. teruus”, bisik Bu Erkam sambil mendesis-
desis.

Kupercepat lagi. Suaranya vagina Bu Erkam kecepak-kecepok, menambah semangatku.

“Dik Budiii aku mau muncaak… muncaak, teruus… teruus”, Aku juga sudah mau keluar.

Aku percepat, dan penisku merasa akan keluar. Kubenamkan dalam-dalam ke dalam vagina Bu Erkam sampai
amblaas. Pangkal penisku berdenyut-denyut, spermaku muncrat-muncrat di dalam vagina Bu Erkam.

Kami berangkulan kuat-kuat, napas kami berhenti. Saking nikmatnya dalam beberapa detik nyawaku
melayang entah kemana. Selesailah sudah. Kerinduanku tercurah sudah, aku merasa lemas sekali tetapi
puas sekali.

Kucabut penisku, dan berbaring di sisinya. Kami berpelukan, mengatur napas kami. Tiada kata-kata yang
terucapkan, ciuman dan belaian kami yang berbicara.

“Dik Budi, aku curiga, salah satu dari kami mandul. Kalau aku subur, aku harap aku bisa hamil dari
spermamu. Nanti kalau jadi aku kasih tahu. Yang tahu bapaknya anakku kan hanya aku sendiri kan. Dengan
siapa aku membuat anak”, katanya sambil mencubitku.

Malam itu pertama kali aku menyetubuhi Bu Erkam tetanggaku. Beberapa kali kami berhubungan sampai aku
kimpoi dengan wanita lain. Bu Erkam walaupun cemburu tapi dapat memakluminya.

Keluarga Pak Erkam sampai saat ini hanya mempunyai satu anak perempuan yang cantik. Apabila di
kedepankan, Bu Erkam sering menciumi anak itu, sementara matanya melirikku dan tersenyum-senyum manis.
Tetanggaku pada meledek Bu Erkam, mungkin waktu hamil Bu Erkam benci sekali sama aku.

Karena anaknya yang cantik itu mempunyai mata, pipi, hidung, dan bibir yang persis seperti mata, pipi,
hidung, dan bibirku.

Seperti telah anda ketahui hubunganku dengan Bu Erkam istri tetanggaku yang cantik itu tetap berlanjut
sampai kini, walaupun aku telah berumah tangga. Namun dalam perkimpoianku yang sudah berjalan dua
tahun lebih, kami belum dikaruniai anak.

Istriku tidak hamil-hamil juga walaupun penisku kutojoskan ke vagina istriku siang malam dengan penuh
semangat. Kebetulan istriku juga mempunyai nafsu seks yang besar. Baru disentuh saja nafsunya sudah
naik.

Biasanya dia lalu melorotkan celana dalamnya, menyingkap pakaian serta mengangkangkan pahanya agar
vaginanya yang tebal bulunya itu segera digarap. Di mana saja, di kursi tamu, di dapur, di kamar
mandi, apalagi di tempat tidur, kalau sudah nafsu, ya aku masukkan saja penisku ke vaginanya.

Istriku juga dengan penuh gairah menerima coblosanku. Aku sendiri terus terang setiap saat melihat
istriku selalu nafsu saja deh. Memang istriku benar-benar membuat hidupku penuh semangat dan gairah.

Tetapi karena istriku tidak hamil-hamil juga aku jadi agak kawatir. Kalau mandul, jelas aku tidak.
Karena sudah terbukti Bu Erkam hamil, dan anakku yang cantik itu sekarang menjadi anak kesayangan
keluarga Pak Erkam.

Apakah istriku yang mandul? Kalau melihat fisik serta haidnya yang teratur, aku yakin istriku subur
juga. Apakah aku kena hukuman karena aku selingkuh dengan Bu Erkam? aah, mosok.

Nggak mungkin itu. Apakah karena dosa? Waah, mestinya ya memang dosa besar. Tapi karena menyetubuhi Bu
Erkam itu enak dan nikmat, apalagi dia juga senang, maka hubungan gelap itu perlu diteruskan,
dipelihara, dan dilestarikan.

Untuk mengatur perselingkuhanku dengan Bu Erkam, kami sepakat dengan membuat kode khusus yang hanya
diketahui kami berdua. Apabila Pak Erkam tidak ada di rumah dan benar-benar aman, Bu Erkam memadamkan
lampu di sumur belakang rumahnya.

Biasanya lampu 5 watt itu menyala sepanjang malam, namun kalau pada pukul 20.00 lampu itu padam,
berarti keadaan aman dan aku dapat mengunjungi Bu Erkam. Karena dari samping rumahku dapat terlihat
belakang rumah Bu Erkam, dengan mudah aku dapat menangkap tanda tersebut.

Tetapi pernah tanda itu tidak ada sampai 1 atau 2 bulan, bahkan 3 bulan. Aku kadang-kadang jadi agak
jengkel dan frustasi (karena kangen) dan aku mengira juga Bu Erkam sudah bosan denganku. Tetapi
ternyata memang kesempatan itu benar-benar tidak ada, sehingga tidak aman untuk bertemu.

Pada suatu hari aku berpapasan dengan Bu Erkam di jalan dan seperti biasanya kami saling menyapa
baik-baik. Sebelum melanjutkan perjalanannya, dia berkata, “Dik Budi, besok malam minggu ada keperluan
nggak?”

“Kayaknya sih nggak ada acara kemana-mana. Emangnya ada apa?” jawabku dengan penuh harapan karena
sudah hampir satu bulan kami tidak bermesraan.

“Nanti ke rumah yaa!” katanya dengan tersenyum malu-malu.

“Emangnya Pak Erkam nggak ada?” kataku.

Dia tidak menjawab, cuma tersenyum manis dan pergi meneruskan perjalanannya. Walaupun sudah biasa,
darahku pun berdesir juga membayangkan pertemuanku malam minggu nanti.

Seperti biasa malam minggu adalah giliran ronda malamku. Istriku sudah tahu itu, sehingga tidak
menaruh curiga atau bertanya apa-apa kalau pergi keluar malam itu. Aku sudah bersiap untuk menemui Bu
Erkam.

Aku hanya memakai sarung, tidak memakai celana dalam dan kaos lengan panjang biar agak hangat. Dan
memang kalau tidur aku tidak pernah pakai celana dalam tetapi hanya memakai sarung saja. Rasanya lebih
rileks dan tidak sumpek, serta penisnya biar mendapat udara yang cukup setelah seharian dipepes dalam
celana dalam yang ketat.

Waktu menunjukkan pukul 22.00. Lampu belakang rumah Bu Erkam sudah padam dari Erkam. Aku berjalan
memutar dulu untuk melihat situasi apakah sudah benar-benar sepi dan aman. Setelah yakin aman, aku
menuju ke samping rumah Bu Erkam.

Aku ketok kaca nako kamarnya. Tanpa menunggu jawaban, aku langsung menuju ke pintu belakang. Tidak
berapa lama terdengar kunci dibuka. Pelan pintu terbuka dan aku masuk ke dalam. Pintu ditutup kembali.

Aku berjalan beriringan mengikuti Bu Erkam masuk ke kamar tidurnya. Setelah pintu ditutup kembali,
kami langsung berpelukan dan berciuman untuk menyalurkan kerinduan kami. Kami sangat menikmati
kemesraan itu, karena memang sudah hampir satu bulan kami tidak mempunyai kesempatan untuk
melakukannya.

Setelah itu, Bu Erkam mendorongku, tangannya di pinggangku, dan tanganku berada di pundaknya. Kami
berpandangan mesra, Bu Erkam tersenyum manis dan memelukku kembali erat-erat. Kepalanya disandarkan di
dadaku.

“Paa, sudah lama kita nggak begini”, katanya lirih. Bu Erkam sekarang kalau sedang bermesraan atau
bersetubuh memanggilku Papa. Demikian juga aku selalu membisikkan dan menyebutnya Mama kepadanya.
Nampaknya Bu Erkam menghayati betul bahwa Nia, anaknya yang cantik itu bikinan kami berdua.

“Pak Erkam sedang kemana sih maa”, tanyaku.

“Sedang mengikuti piknik karyawan ke Pangandaran. Aku sengaja nggak ikut dan hanya Nia saja yang ikut.
Tenang saja, pulangnya baru besok sore”, katanya sambil terus mendekapku.

“Maa, aku mau ngomong nih”, kataku sambil duduk bersanding di tempat tidur. Bu Erkam diam saja dan
memandangku penuh tanda tanya.

“Maa, sudah dua tahun lebih aku berumah tangga, tetapi istriku belum hamil-hamil juga. Kamu tahu,
mustinya secara fisik, kami tidak ada masalah.

Aku jelas bisa bikin anak, buktinya sudah ada kan. Aku nggak tahu kenapa kok belum jadi juga. Padahal
bikinnya tidak pernah berhenti, siang malam”, kataku agak melucu. Bu Erkam memandangku.

“Pa, aku harus berbuat apa untuk membantumu. Kalau aku hamil lagi, aku yakin suamiku tidak akan
mengijinkan adiknya Nia kamu minta menjadi anak angkatmu. Toh anak kami kan baru dua orang nantinya,
dan pasti suamiku akan sayang sekali.

Untukku sih memang seharusnya bapaknya sendiri yang mengurusnya. Tidak seperti sekarang, keenakan dia.
Cuma bikin doang, giliran sudah jadi bocah orang lain dong yang ngurus”, katanya sambil merenggut
manja. Aku tersenyum kecut.

“Jangan-jangan ini hukuman buatku ya maa, Aku dihukum tidak punya anak sendiri. Biar tahu rasa”,
kataku.

“Ya sabar dulu deh paa, mungkin belum pas saja. Spermamu belum pas ketemu sama telornya Rina (nama
istriku). Siapa tahu bulan depan berhasil”, katanya menghiburku.

“Ya mudah-mudahan. Tolong didoain yaa…”

“Enak saja. Didoain? Mustinya aku kan nggak rela Papa menyetubuhi Rina istrimu itu. Mustinya Papa kan
punyaku sendiri, aku monopoli. Nggak boleh punya Papa masuk ke perempuan lain kan.

Kok malah minta didoain. Gimana siih”, katanya manja dan sambil memelukku erat-erat.
Benar juga, mestinya kami ini jadi suami-istri, dan Nia itu anak kami.

“Maa, kalau kita ngomong-ngomong seperti ini, jadinya nafsunya malah jadi menurun lho. Jangan-jangan
nggak jadi main nih”, kataku menggoda.

“Iiih, dasar”, katanya sambil mencubit pahaku kuat-kuat.

“Makanya jangan ngomong saja. Segera saja Mama ini diperlakukan sebagaimana mestinya. Segera digarap
doong!” katanya manja.

Kami berpelukan dan berciuman lagi. Tentu saja kami tidak puas hanya berciuman dan berpelukan saja.
Kutidurkan dia di tempat tidur, kutelentangkan. Bu Erkam mandah saja. Pasrah saja mau diapain.

Dia memakai daster dengan kancing yang berderet dari atas ke bawah. Kubuka kancing dasternya satu per
satu mulai dari dada terus ke bawah. Kusibakkan ke kanan dan ke kiri bajunya yang sudah lepas
kancingnya itu. Menyembullah buah dadanya yang putih menggunung (dia sudah tidak pakai BH). Celana
dalam warna putih yang menutupi vaginanya yang nyempluk itu aku pelorotkan.

Aku benar-benar menikmati keindahan tubuh istri gelapku ini. Saat satu kakinya ditekuk untuk
melepaskan celana dalamnya, gerakan kakinya yang indah, vaginanya yang agak terbuka, aduh pemandangan
itu sungguh indah.

Benar-benar membuatku menelan ludah. Wajah yang ayu,buah dada yang putih menggunung, perut yang
langsing, vagina yang nyempluk dan agak terbuka, kaki yang indah agak mengangkang, sungguh mempesona.
Aku tidak tahan lagi.

Aku lempar sarungku dan kaosku entah jatuh dimana. Aku segera naik di atas tubuh Bu Erkam. Kugumuli
dia dengan penuh nafsu. Aku tidak peduli Bu Erkam megap-megap keberatan aku tindih sepenuhnya. Habis
gemes banget, nafsu banget sih.

“Uugh jangan nekad tho. Berat nih”, keluh Bu Erkam.

Aku bertelekan pada telapak tanganku dan dengkulku. Penisku yang sudah tegang banget aku paskan ke
vaginanya. Terampil tangan Bu Erkam memegangnya dan dituntunnya ke lubang vaginanya yang sudah basah.

Tidak ada kesulitan lagi, masuklah semuanya ke dalam vaginanya. Dengan penuh semangat kukocok vagina
Bu Erkam dengan penisku. Bu Erkam semakin naik, menggeliat dan merangkulku, melenguh dan merintih.
Semakin lama semakin cepat, semakin naik, naik, naik ke puncak.

“Teruuus, teruus paa.. sshh… ssh…” bisik Bu Erkam

“Maa, aku juga sudah mau… keluaarr”

“Yang dalam paa… yang dalamm. Keluarin di dalaam Paa… Paa… Adduuh Paa nikmat banget Paa…, ouuch..”,
jeritnya lirih yang merangkulku kuat-kuat.

Kutekan dalam-dalam penisku ke vaginanyanya. Croot, cruuut, crruut, keluarlah spermaku di dalam rahim
istri gelapku ini. Napasku seperti terputus. Kenikmatan luar biasa menjalar kesuluruh tubuhku. Bu
Erkam menggigit pundakku. Dia juga sudah mencapai puncak. Beberapa detik dia aku tindih dan dia
merangkul kuat-kuat.

Akhirnya rangkulannya terlepas. Kuangkat tubuhku. Penisku masih di dalam, aku gerakkan pelan-pelan,
aduh geli dan ngilu sekali sampai tulang sumsum. Vaginanya licin sekali penuh spermaku.

Kucabut penisku dan aku terguling di samping Bu Erkam. Bu Erkam miring menghadapku dan tangannya
diletakkan di atas perutku.

Dia berbisik, “Paa, Nia sudah cukup besar untuk punya adik. Mudah-mudahan kali ini langsung jadi ya
paa.

Aku ingin dia seorang laki-laki. Sebelum Papa Erkam mengeluh Rina belum hamil, aku memang sudah
berniat untuk membuatkan Nia seorang adik. Sekalian untuk test apakah Papa masih joos apa tidak. Kalau
aku hamil lagi berarti Papa masih joosss.

Kalau nanti pengin menggendong anak, ya gendong saja Nia sama adiknya yang baru saja dibuat ini.” Dia
tersenyum manis.

Aku diam saja. menerawang jauh, alangkah nikmatnya bisa menggendong anak-anakku.

Malam itu aku bersetubuh lagi. Sungguh penuh cinta kasih, penuh kemesraan. Kami tuntaskan kerinduan
dan cinta kasih kami malam itu. Dan aku menunggu dengan harap-harap cemas, jadikah anakku yang kedua
di rahim istri gelapku ini?-


BANDARQQ365

Monday, April 16, 2018

Seranjang Dengan Cewek Malaysia

No comments:
Seranjang Dengan Cewek Malaysia

Seranjang Dengan Cewek Malaysia
WWW.BANDARQQ365.COM

Seranjang Dengan Cewek Malaysia - Hari senin kemarin saat itu tanggal 30 November 2015 sekitar pukul 3 sore wantu malaysia, setelah
berkunjung di salah satu tempat PM Malaysia di teruskan rombongan kami intirahat di Darby park yang
letaknya di kuala lumpur letaknya dekat dengan menara kembar yang cukup terkenal di dunia.

Aku mendapat kunci kamar yang mana terletak dilantai 20 menempati kelas exsekutif yang memiliki 2
kamar, dimana ada ruang tamu, dan ruang dapurnya, yang anehnya aku di kamar sendirian kenapa tidak
dijadikan satu saja suapaya tempat tidurnya tidak kosong.

Sekitar pukul 16.15, bell di kamarku berdering. Ternyata dari pemandu kami yang orang Pakistan untuk
mengingatkan agar 15 menit lagi berkumpul di lobby hotel untuk bersiap-siap pergi pesiar ke KLCC yang
terletak di bawah menara kembar Petronas, ke Menara Kuala Lumpur dan terakhir ke Genting Highland,
dimana di lokasi dengan ketinggian sekitar 5.350 kaki itu juga terdapat kasino nomor dua terbesar di
Asia.

Namun aku menyampaikan kepada pemandu itu dan juga kepada pimpinan rombongan, bahwa aku ingin
istirahat saja di kamar, sekaligus menyatakan bahwa aku juga hendak ke China Town setelah magrib untuk
membeli ole-ole buat teman-teman di kantor sepulang dari Malaysia nantinya. Akhirnya mereka mengerti
dan meninggalkan aku sendiri di kamar.

Sepeninggalan teman-teman yang telah pergi shopping ke KLCC, untuk menghilangkan jenuh aku lalu
menghidupkan VCD player yang ada di ruang tamu dengan memutar kepingan VCD “Tourism Malaysia” yang
diberikan pihak penyelenggara seminar di The Puteri Pan Pasific Hotel di Johor Baru, beberapa hari
lalu,

Sambil tidur-tiduran di atas sofa yang cukup lebar dan empuk. Mungkin karena capek setelah seharian
mutar-mutar di Putrajaya, tak terasa aku tertidur dan baru terbangun ketika bell di kamarku berbunyi.

Aku melihat jam, ternyata sudah pukul 18.45. Siapa pula yang datang? Teman-teman kembali nanti paling
juga subuh karena memang ada diantara mereka yang ingin berjudi di Genting.

Dengan bermalas-malasan dan setelah merapikan baju kaos yang aku pakai, aku buka juga pintu kamarku.
Sesaat aku terkaget dan seperti tidak percaya melihat orang yang berdiri di hadapanku.

“Lara..?” hanya itu yang bisa aku ucapkan sambil mengucek-ucek kelopak mataku.

“Kamu jahat. Kenapa kamu tidak memberitahuku jika kamu datang ke Malaysia? Bahkan ketika kamu sudah
berada di Kuala Lumpur pun, kamu masih tetap tidak meneleponku,”

cewek itu berceloteh terus sambil mendorong tubuhku ke dalam dengan tangan memukul dadaku.

“Aku bukannya sengaja untuk tidak meneleponmu. Tapi sungguh, nomor telepon kamu hilang ketika aku
mengganti kartu halloku dengan navigator 64kb yang dikeluarkan Telkomsel. Aku ganti kartu,

Karena aku ingin mengaktifkan mobile banking, sementara memori untuk menyimpang nomor telepon di kartu
baru itu tidak cukup untuk 250 nama seperti pada kartu lama.

Aku baru tahu nomor kamu tidak ada di kartuku, setelah mau menelpon kamu ketika hendak berangkat ke
Malaysia seminggu lalu,” ujarku menerangkan, sambil membelai rambutnya yang direbonding.

Oh ya, Lara adalah pacarku orang Malaysia dan kini berusia sekitar 23 tahun yang bekerja di salah satu
perusahaan swasta cukup besar di negara jiran itu, yang ku kenal ketika dalam perjalanan dengan
pesawat Silk Air menuju kota “P” dari Singapora.

Dan selama di kota “P” aku selalu menemaninya kemana pergi, dan bahkan sempat beberapa kali tidur
bersama. Lara yang bertubuh seksi dan sintal dengan tinggi sekitar 168 cm berkulit putih dan mirip
artis Eddies Adellia.

Pinggangnya ramping, pinggul padat berisi dan payudara yang montok serta padat dengan ukuran bra 36B.
Dan setiap aku ke Malaysia atau dia ke kotaku, pastilah tidak pernah terlewatkan bagi kami berdua
untuk bercinta.

Ketika aku tanyakan dari mana dia tahu kalau aku sedang di Kuala Lumpur dan menginap di PNB Darby
Park, ia menyatakan tahu dari teman-temanku. Waktu dia sedang duduk-duduk di salah satu kafe di KLCC
sepulang dari kerja, dan kebetulan melihat teman-temanku yang pakai kokarde “Mega FAM” bertuliskan
dari kota “P”, dan menguping teman-temanku bercerita, dan ia mendengar namaku ikut disebut-sebut.

Waktu itu, feelingnya langsung mengatakan bahwa nama Sanhan yang disebut-sebut itu pastilah aku,
sehingga ia memberanikan diri bertanya pada salah seorang temanku, dimana aku berada, setelah
sebelumnya ia menyatakan bahwa ia mengenal aku.

Akhirnya teman-temanku mengatakan bahwa aku sedang istirahat di hotel, dan ketika ia datang ke hotel
tempat aku menginap, ia tanyakan namaku dan receptions hotel lalu memberi nomor kamarku.

“Syukurlah kamu bisa menemukan aku. Kamu tahu kenapa aku tidak mau gabung dengan teman-teman ke
Genting? Itu karena aku punya rencana untuk datang ke rumahmu malam ini,” ujarku menjelaskan.

“Iya ke..,” rajuknya dalam logat Malaysia.

“Sure..!” jawabku pasti, sambil merengkuh pundaknya sehingga ia berada dalam pelukanku.

“Aku sungguh merindukanmu, Lara,” rayuku.

“Aku juga, makanya aku datang ke tempatmu,” balasnya.

“Kamu mau menemaniku disini malam ini kan?” tanyaku.

Lara menganggukkan kepalanya. Namun ia menyatakan bahwa ia harus menelepon temannya satu apartemen
bersebelahan kamar untuk memberitahu, untuk memberitahu jika ia tidak pulang malam ini.

Karena tidak tahan lagi menahan rasa rindu yang memuncak serta keinginan untuk mereguk kenikmatan
tubuhnya yang sensual dan sudah hampir satu tahun tidak aku cicipi itu.

Kulihat Lara yang baru saja menelepon temannya itu sedang asyik menikmati siaran TV3 sambil
menyandarkan tubuhnya dengan santai di sofa yang berukuran cukup panjang dan lebar itu. Aku mendekat
dan langsung mengecup keningnya. Ia menengadah, dan ciumanku terus merambat turun ke bibirnya yang
sensual.

“Ah..,” desahnya tertahan.

Ciumanku terus menjalar ke belakang telinganya dan terus ke lehernya yang jenjang. Sementara tanganku
mulai menjalar mencari dua bukit kenyal yang montok dan selalu menantang itu. Kulihat ia mulai
menggelinjang-gelinjang sambil merasakan nikmat permainan yang aku berikan.

Perlahan-lahan tapi pasti, aku mulai membuka baju kaos yang dipakainya, dan melanjutkan dengan membuka
celana jeans ketat yang melekat di tubuhnya. Sehingga terlihat ia hanya menggunakan bra warna hitam
yang serasi dengan celana dalamnya yang juga berwarna hitam.

Sementara bibirku, tetap bermain di bibirnya yang ranum. Kemudian tangan kananku mulai mencari pengait
bra yang dipakainya dan melepasnya.

Bibirku langsung beraksi mengulum puting susunya yang sudah mulai mengeras. Sekali-sekali aku gigit
puting susunya yang berwarna coklat itu, sehingga ia terdengar mengerang. Sementara tangan kananku,
terus merambat turun dan mulai memelorotkan celana dalamnya.

Sesaat tanganku berhenti di gundukan daging di sela pangkal pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu hitam
lebat dan tertata rapi.

“Honey, please..!” rengeknya sambil berusaha membuka kaos singlet yang kupakai.

Kemudian dengan rakusnya iapun mulai menjilati dan menghisap puting susuku yang ditumbuhi bulu-bulu.
Aku tergelinjang, dan seketika nafsuku semakin memuncak. Ia semakin bergelora dan terus menjilati
tubuhku hingga ke bawah. Karena terhalang celana pendek yang kupakai, iapun lalu memelorotkannya,
sehingga aku menjadi telanjang bulat seperti dirinya. Penisku terlihat mengacung dengan gagahnya ke
atas.

“Oh..,” desahnya sambil menjilati seluruh batang penisku.

Tak cukup sampai disitu, ia lalu berusaha mengulum seluruh batang penisku. Namun karena tersekat di
kerongkongannya, hanya sebagian saja yang bisa dikulum dan diisapnya, sehingga membuat aku kegelian
dan semakin terangsang.

Kemudian aku coba mengambil alih inisiatif dengan menarik tubuhnya ke atas serta menyandarkannya di
sofa, dan kemudian aku mulai lagi menjilati dan menghisap puting payudaranya. Hisapanku lalu pindah ke
bibir, ke telinga dan leher, sehingga membuatnya makin terangsang dengan hebat.

Ciuman lalu aku teruskan ke bawah, dan bermain-main sebentar di sekitar pusarnya. Kemudian bibirku
terus merambat ke bawah, dan mendapatkan vaginanya yang berbulu lebat itu sudah mulai dibasahi cairan
kental.

Setelah kakinya aku angka dan bulu-bulu yang menutupi lubang vaginanya aku sibakkan, aku mulai
menjilat clitorisnya dengan lidahku. Lara semakin menggelinjang menahan nikmat, sehingga setelah
hampir lima menit lidahku bermain di lubang vaginanya, akhirnya aku lihat Lara berkelenjotan dan
mengangkat tinggi pinggulnya dan terdengar teriakan tertahan.

“Oh, honey. Aku tak tahan lagi. Aku.. mau.. keluar..!’ teriaknya.

Tak lama kemudian aku melihat cukup banyak cairan kental menyembur dari lubang vaginanya. Sementara
aku lalu menghentikan jilatan untuk memberikannya kesempatan menikmati orgasmenya yang pertama itu.
Kemudian, dengan rakus aku jilati semua cairan yang keluar dari vaginanya itu.

“Ah, honey. Apa yang aku impikan selama satu tahun ini untuk bercinta kembali denganmu, akhirnya
menjadi kenyataan,” katanya.

“Aku juga sayang, si kecil ini sudah lama berontak untuk bisa bersemayam di goa milikmu yang hangat
itu,” balasku sambil mencium mesra bibirnya.

Ciumanku itu dibalas Lara dengan hangat. Kembali permainan lidah yang luar biasa terjadi. Sementara
tangan kananku sibuk meremas dengan lembut dua bukit kembarnya yang sangat menantang itu.

Lalu perlahan dan tanpa melepaskan ciuman bibir, aku bopong Lara ke dalam kamar dengan tetap
membiarkan kaca jendela tidak ditutup gorden, sehingga menambah nuansa tersendiri dalam permainan seks
kami.

Baru saja Lara aku rebahkan di ranjang, tiba-tiba ia bangkit dan mendorongku hingga tertelentang. Ia
terlihat ingin mengambil inisiatif menyerang dengan menciumi seluruh bagian tubuhku dengan ganasnya.

Akibatnya, penis aku yang sejak tadi sudah mengeras itu, sudah tidak sabaran lagi untuk bisa menyeruak
ke dalam lubang kenikmatan Lara. Pada saat Lara asyik melumat bibirku, secara diam-diam “si kecil” aku
arahkan tepat di lubang vaginanya.

“Ah, terus sayang..,” desahnya.

Sementara aku mengangkat pinggul agar penisku bisa masuk, Lara juga ikut membantu dengan menekan
pinggulnya. Secara perlahan-lahan, penisku mulai dapat memasuki liang vagina Lara yang masih terasa
sempit karena selalu dirawat dengan baik. Bless..! Semua batang penisku amblas masuk hingga dapat
kurasakan menyentuh dasar vaginanya.

“Oh, terus honey. Enaakk..!” desahnya.

Karena aku merasakan goyangnya mulai mengendur karena lelah berada di atas, akhirnya aku mengambil
inisiatif membalikkan tubuhnya hingga telentang, dengan penisku tetap berada di dalam vaginanya.

Secara perlahan, aku mulai menggoyang pinggul untuk memaju mundurkan penisku di vaginanya, sementara
lidahku tetap saling kait mengait dengan lidahnya. Kemudian lidahku merambat turun ke dadanya dan
menghisap puting susunya yang mengeras,

Sementara aku tetap mempertahankan intensitas goyangan di pinggulku. Akibatnya, Lara terlihat sudah
tidak bisa menahan seranganku, karena aku rasakan pinggulnya mulai diangkat dan kakinya mengejang.

“Oh, honey. Aku tak tahan lagi dan mau.. ke.. luar..'” erangnya.

“Tahan dulu sayang, kita keluarkan sama-sama,” ujarku tertahan.

Aku akhirnya aku tidak bisa menahan desakan di pangkal penisku yang terasa menghentak-hentak hendak
menghantam vagina Lara. Dan dalam hitungan detik, akhirnya aku muntahkan seluruh sperma yang ada di
penisku, sementara Lara juga kurasakan mengeluarkan lendir di vaginanya yang terasa hangat oleh batang penisku.

“Oh, aku benar-benar puas Sanhan. Aku ingin kamu masih di KL agak beberapa hari lagi,” ujarnya sambil
mengecup bibirku mesra.

“Bagaimana ya, tiketku tak bisa diundur karena sudah diprogram oleh penyelenggara Mega FAM. Aku harus
pulang ke Indonesia pagi besok,” jawabku hati-hati.

“Pokoknya serahkan saja tiket itu padaku, aku yang akan mengaturnya. Kalaupun tiket pesawatmu tidak
bisa di undur, biarkan saja, nanti aku ganti dengan tiket baru untuk kembali ke Indonesia hari Kamis
tanggal 29 Januari,” katanya sambil mengelus dadaku yang sedikit berbulu. Aku menyatakan setuju,
sehingga kulihat ia tersenyum karena merasa senang.

Dan menjelang pagi, kami sempat melakukan “pertarungan” sengit itu hingga empat kali, sehingga aku
lihat Lara benar-benar terpuaskan oleh permainanku yang katanya sangat dahsyat itu. Ia juga berjanji
untuk minta izin kepada atasannya selama 3 hari untuk menemaniku selama berada di Kuala Lumpur,
sekaligus untuk melampiaskan nafsu syahwatnya yang juga sangat dahsyat itu.

Lara kembali ke apartemennya sekitar jam 04.30 untuk bersiap-siap pergi kerja, dan sekitar pukul 05.30
aku dibangunkan teman-teman untuk bersiap-siap menuju KLIA untuk seterusnya kembali ke kotaku. Namun
kepada teman-teman aku sampaikan,

Bahwa aku masih akan tinggal di Kuala Lumpur hingga tanggal 29 Januari, karena ada sedikit urusan.
Tentang tiket pesawatku yang tidak bisa diundur keberangkatannya, aku katakan sudah ada yang
mengaturnya, sehingga teman-temanku dapat memahaminya.

Salam manis untuk Marwah dan juga Sella, semoga puas membaca kisah cintaku dengan cewek Malaysia.
Pesanku, “don’t wait until tomorrow, what can you do to do”.-



BANDARQQ365

Sunday, April 15, 2018

Cerita Sex Hot Tante Lesbi

No comments:
Cerita Sex Hot Tante Lesbi

Cerita Sex Hot Tante Lesbi


Tante Lesbi - Aku suka menulis cerita sex tentang sesama jenis dimana kisah percintaanku yang kutulis ini buka yang
pertama kali, aku suka berpetualang cinta kali ini aku akan menceritakan kisah seksku yang pertama
dengan teman ibuku , kejadian ini tidak aku sangka diman aku baru saja masuk kelas 1 SMU dan saat itu aku tinggal di Yogya

Ibuku mempunyai teman namanya Ibu Dasha aku sering memanggilnya dengan tante Dasha hubungan kami
sungguh sangat dekat aku anggap sudah sebagai saudara sendiri di rumahku.tante Dasha mempunyai wajah
yang cantik wajahnya lebih muda ketimbang ibuku memang karena usianya juga cukup jauh. Usia Tante
Dasha ketika itu sekitar 28 tahun. Selain cantik, Tante Dasha memiliki tubuh yang langsing, namun
padat dan seksi.

Kejadian ini bermula ketika liburan semester, waktu itu kedua orang tuaku harus pergi ke Madiun karena
ada perayaan pernikahan saudara.

Karena aku dan Tante Dasha cukup dekat maka aku minta kepada ibuku untuk menginap saja di rumah Tante
Dasha yang tidak jauh dari rumahku selama 5 hari itu. Dan kebetulan suami Tante Dasha juga sedang di
luar kota, karena memang suaminya sering sekali ditugaskan ke luar kota, sehingga Tante Dasha sering
sendirian di rumah.

Hari-hari pertama kulewati dengan ngobrol-ngobrol sambil bercanda-ria atau shopping berdua dengan
Tante Dasha, sering juga kami bermain bermacam permainan seperti halma atau monopoli, karena memang
Tante Dasha orangnya sangat pintar bergaul dengan siapa saja.

Ketika suatu hari, sehabis makan siang, tiba-tiba Tante Dasha berkata kepadaku,

“Sar.. kita main dokter-dokteran yuk.. sekalian Sari Tante periksa beneran, mumpung gratis..”
Memang kata Ibuku, dahulu Tante Dasha pernah kuliah di fakultas kedokteran namun putus di tengah jalan
karena menikah.

“Ayoo..” sambutku dengan senang hati.

Kemudian Tante Dasha mengajakku ke kamarnya, lalu mengambil sesuatu dari lemarinya, rupanya ia
mengambil stetoskop, mungkin bekas yang dipakainya ketika kuliah dulu.

“Nah Sar, kamu buka deh bajumu, terus tiduran di ranjang,” bisik Tante Dasha.

“Baik Tante,” kataku,

lalu aku membuka kaosku, dan mulai hendak berbaring.

Namun Tante Dasha bilang,

“Lho.. BH-nya sekalian dibuka dong, biar Tante gampang meriksanya..”

Aku yang waktu itu masih polos, dengan lugunya aku membuka BH-ku, sehingga kini terlihatlah buah
dadaku yang masih mengkal.

“Wah.. kamu memang benar-benar cantik Sar..” kata Tante Dasha.

Kulihat matanya tak berkedip memandang buah dadaku, dan aku hanya tertunduk malu.

Setelah terlentang di atas ranjang, dengan hanya memakai rok mini saja, Tante Dasha mulai memeriksaku.
Mula-mula di tempelkannya stetoskop itu di dadaku, rasanya dingin.., lalu Tante Dasha menyuruhku
bernafas sampai beberapa kali, setelah itu Tante Dasha mencopot stetoskopnya.

Kemudian Tante Dasha tersenyum kepadaku, sambil tangannya menyentuh lenganku, lalu mengusap-usapnya
dengan lembut,

“Waah.. kulit kamu halus ya, Sar.. Kamu pasti rajin merawatnya,” katanya.

Aku diam saja, aku hanya merasakan sentuhan dan usapan lembut Tante Dasha. Kemudian usapan Tante Dasha
bergerak naik ke pundakku. Setelah itu tangan Tante Dasha merayap mengusap perutku.

Aku hanya diam saja merasakan perutku diusap-usapnya, sentuhan Tante Dasha benar- benar terasa lembut,
dan lama-kelamaan terus terang aku mulai jadi agak terangsang oleh sentuhannya, sampai-sampai bulu
tanganku merinding dibuatnya.

Lalu Tante Dasha menaikkan usapannya ke pangkal bawah buah dadaku yang masih mengkal itu, mengusap
mengitarinya, lalu mengusap buah dadaku. Ih.. baru kali ini aku merasakan yang seperti itu, rasanya
halus, lembut dan geli, bercampur menjadi satu.Cerita Sex Terbaru

Namun tidak lama kemudian, Tante Dasha menghentikan usapannya. Dan aku kira.. yah, hanya sebatas ini
perbuatannya. Tapi kemudian Tante Dasha bergerak ke arah kakiku.

“Nah.. sekarang Tante periksa bagian bawah yah..” katanya.

Setelah diusap-usap seperti tadi yang terus terang membuatku agak terangsang, aku hanya bisa
mengangguk pelan saja.

Saat itu aku masih mengenakan rok miniku, namun tiba-tiba Tante Dasha menarik dan meloloskan celana
dalamku. Tentu saja aku keget setengah mati,

” Ih.. Tante, kok celana dalam Sari dibuka..?” kataku dengan gugup.

“Lho.. khan mau diperiksa.. pokoknya Sari tenang aja..” katanya dengan suara lembut sambil tersenyum,
namun tampaknya mata dan senyum Tante Dasha penuh dengan maksud tersembunyi.
Tetapi saat itu aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa.

Setelah celana dalamku diloloskan oleh Tante Dasha, Tante Dasha duduk bersimpuh di hadapan kakiku.
Tante Dasha tak berkedip menatap liang kewanitaanku yang masih mungil, dengan bulu-bulunya yang masih
sangat halus dan tipis.

Lalu kedua kakiku dinaikkan ke pahanya, sehingga pahaku menumpang di atas pahanya. Lalu Tante Dasha
mulai mengelus-elus betisku, halus dan lembut sekali rasanya, lalu diteruskan dengan perlahan-lahan
meraba pahaku bagian atas, lalu ke paha bagian dalam. Hii.. aku jadi merinding rasanya.

“Tante..” suaraku lirih.

“Tenang sayang.. pokoknya nanti kamu merasa enak..” katanya sambil tersenyum.

Tante Dasha lalu mengelus-elus selangkanganku, perasaanku jadi makin tidak karuan rasanya. Kemudian,
dengan jari telunjuknya yang lentik, Tante Dasha menggesekkannya ke bibir kemaluanku dari bawah ke
atas,

“Aaahh.. Tantee..” jeritku lirih.

“Ssstt.. hmm.. enak kan..?” katanya.

Mana mampu aku menjawab, malahan Tante Dasha mulai meneruskan lagi menggesekkan jarinya berulang-
ulang. Tentu saja ini membuatku makin nggak karuan, aku menggelinjang-gelinjang, mengeliat-ngeliat
kesana-kemari.

“Ssstthh.. aahh.. Tante.. aahh..” eranganku terdengar lirih, dunia serasa berputar-putar, kesadaranku
bagaikan terbang ke langit.

Liang kewanitaanku rasanya sudah basah sekali karena aku memang benar-benar terangsang sekali.

Setelah Tante Dasha merasa puas dengan permainan jarinya, Tante Dasha menghentikan sejenak
permainannya itu, tapi kemudian wajahnya mendekati wajahku, aku yang antara sadar dan tidak sadar,
hanya bisa melihatnya pasrah.

Wajahnya semakin dekat, kemudian bibirnya mendekati bibirku, lalu ia mengecupku dengan lembut, rasanya
geli-geli, lembut dan basah. Namun Tante Dasha bukan hanya mengecup, ia lalu melumat habis bibirku
sambil memainkan lidahnya.

Hii.. rasanya jadi makin geli apalagi ketika lidah Tante Dasha memancing lidahku, sehingga aku tidak
tahu kenapa, secara naluri jadi terpancing, sehingga lidahku dengan lidah Tante Dasha saling bermain,
membelit-belit, tentu saja aku jadi semakin nikmat kegelian.

Kemudian Tante Dasha mengangkat wajahnya dan memundurkan badannya. Entah apa lagi pikirku, aku toh
sudah pasrah. Dan eh.. gila.. Tante Dasha menyeruakkan kepalanya ke selangkanganku, kedua pahaku
diletakkan di atas pundaknya, sehingga kedua paha bagian dalamku seperti menjepit kepala Tante Dasha.

Lalu tanpa sungkan-sungkan lagi Tante Dasha mulai menjilati bibir kemaluanku.
“Aaa.. Tantee..!” aku menjerit, walaupun lidah Tante Dasha terasa lembut, namun jilatan Tante Dasha
itu terasa menyengat liang kewanitaanku dan menjalar ke seluruh tubuhku,

Namun Tante Dasha justru menjilati habis-habisan bibir kemaluanku, lalu lidahnya masuk ke dalam liang
kewanitaanku dan menari-nari di dalam liang kewanitaanku.

Lidah Tante Dasha mengait-ngait kesana-kemari menjilat-jilat seluruh dinding kemaluanku. Tentu saja
aku makin menjadi-jadi, menjerit-jerit tidak karuan,

“Aaahh.. Tantee.. aa.. auu.. aahh..!”

Aku menggelinjang-gelinjang seperti kesurupan, menggeliat kesana-kemari merasakan kegelian bercampur
dengan kenikmatan yang amat sangat. Namun Tante Dasha dengan kuat memeluk kedua pahaku di antara
pipinya, sehingga walaupun aku menggeliat kesana-kemari, namun Tante Dasha tetap mendapatkan yang
diinginkannya.

Jilatan-jilatan Tante Dasha benar-benar membuatku bagaikan orang lupa daratan, liang kewanitaanku
sudah benar-benar banjir dibuatnya, membuat Tante Dasha menjadi semakin liar, ia bukan cuma menjilat-
jilat, bahkan menghisap, menyedot-nyedot liang kewanitaanku.

Cairan lendir liang kewanitaanku bahkan disedot Tante Dasha habis-habisan. Sedotan Tante Dasha di
liang kewanitaanku sangat kuat, membuatku jadi samakin kelonjotan.

Kemudian Tante Dasha sejenak menghentikan jilatannya. Dengan jarinya ia membuka bibir kemaluanku, lalu
disorongkan sedikit ke atas. Aku saat itu tidak tahu apa maksud Tante Dasha, rupanya Tante Dasha
mengincar klitorisku. Tante Dasha menjulurkan lidahnya, lalu dijilatnya klitorisku,

“Aaahh..” tentu saja aku menjerit keras sekali, aku merasa seperti kesetrum, karena ternyata itu
bagian yang paling sensitif buatku.

Begitu kagetnya aku merasakannya, aku sampai menggangkat pantatku. Tante Dasha malah menekan pahaku ke
bawah, sehingga pantatku nempel lagi ke kasur, dan terus menjilati klitorisku sambil dihisap-hisapnya,

“Aaa.. aauuhh.. aahh..!” jeritku semakin menggila.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang amat sangat, yang ingin keluar dari dalam liang kewanitaanku,
seperti mau kencing, dan aku tak kuat menahannya, namun Tante Dasha yang sepertinya sudah tahu,
malahan menyedot klitorisku dengan kuatnya sehingga,

“Tantee.. aahh..!” tubuhku terasa tersengat tegangan tinggi, seluruh tubuhku menegang, tak sadar
kujepit dengan kuat pipi Tante Dasha dengan kedua pahaku di selangkanganku.

Lalu tubuhku bergetar bersamaan dengan keluarnya cairan liang kewanitaanku, banyak sekali dan
tampaknya Tante Dasha tidak menyia- nyiakannya, disedotnya liang kewanitaanku, dihisapnya seluruh
cairan yang keluar dari liang kewanitaanku. Tulang-tulangku terasa lolos, lalu tubuhku terasa lemas
sekali.

Tante Dasha kemudian memelukku, lalu mengecup bibirku.

“Gimana Sar.. enak khan..?”

Namun aku sudah tak mampu menjawabnya, nafasku tinggal satu-satu, aku hanya bisa mengangguk sambil
tersipu malu. Aku tidak percaya bisa diperlakukan begini oleh Tante Dasha, dan tidak pernah kusangka,
karena sehari-hari Tante Dasha tampak begitu cantik dan anggun. Dan akhirnya aku yang sudah amat lemas
terlelap di pelukan Tante Dasha.

Setelah kejadian itu, pada mulanya aku benar-benar merasa gamang, perasaan-perasan aneh berkecamuk
dalam diriku, walaupun ketika waktu itu, saat aku bangun dari tidurku Tante Dasha telah berupaya
menenangkanku dengan lembut.

Namun entah kenapa, setelah beberapa hari kemudian, kok rasanya aku jadi kepengin lagi, abisnya kalau
diingat-ingat sebenarnya enak sich hi.hi.hi.. Jadi sepulang sekolah aku mampir ke rumah Tante Dasha,

Tentu saja aku malu mengatakannya, aku hanya pura-pura ngobrol kesana-kemari, sampai akhirnya Tante
Dasha menawarkan lagi untuk main-main seperti kemarin dulu, barulah aku menjawabnya dengan mengangguk
malu-malu.

Begitulah kisah pengalamanku, ketika pertamakali aku merasakan yang namanya seks. Setelah pengalamanku
dengan Tante Dasha itu barulah aku mulai bertualang dimana akhirnya aku mau mencoba bercinta dengan
lain jenis.-





BANDARQQ365
 
Copyright ©2016 BandarQQ365 Bandar Sakong • All Rights Reserved.
Template Design by BTDesigner • Powered by Blogger